Kamis, 22 Oktober 2026

Bukan Sekadar Sarung dan Peci, Ini Peran Santri dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Rizky Aisyah - Kamis, 22 Oktober 2026 10:29 WIB
Bukan Sekadar Sarung dan Peci, Ini Peran Santri dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia
NU Lampung
Santri bukan sekadar sarung dan peci. Di balik kehidupan pesantren, ada sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu momentum penting yang menggerakkan semangat ulama dan santri dalam membela tanah air.

Topikseru.com -Santri selama ini identik dengan sarung, peci, dan kehidupan di lingkungan pesantren. Namun, di balik gambaran tersebut, santri memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak hanya menuntut ilmu agama, tetapi juga ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan.

Salah satu peristiwa yang menandai keterlibatan ulama dan santri dalam perjuangan bangsa adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Pemerintah menetapkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Resolusi Jihad, Seruan untuk Mempertahankan Kemerdekaan

Baca Juga:

Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, perjuangan belum berakhir karena Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng kedatangan pasukan Sekutu.

Situasi tersebut mendorong para ulama untuk mengambil sikap. Pada 21–22 Oktober 1945, para ulama dan perwakilan Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di Surabaya.

Pertemuan itu menghasilkan Resolusi Jihad yang diumumkan pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menegaskan pentingnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mendorong umat Islam untuk turut membela tanah air. KH Hasyim Asy'ari menjadi salah satu tokoh penting dalam momentum tersebut.

Resolusi Jihad bukan sekadar seruan keagamaan. Dalam situasi saat itu, keputusan tersebut juga menjadi dorongan moral bagi masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih.

Santri Turut Terlibat dalam Pertempuran Surabaya

Pengaruh semangat perjuangan tersebut terlihat dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Santri bersama ulama dan berbagai kelompok masyarakat ikut terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang berupaya menguasai kembali wilayah Indonesia.

Salah satu kelompok yang beranggotakan santri adalah Laskar Hizbullah. Kelompok ini telah dibentuk pada masa pendudukan Jepang dan mendapat pelatihan militer. Sementara itu, Laskar Sabilillah menjadi salah satu kelompok perjuangan yang melibatkan para ulama.

Kehadiran kelompok-kelompok tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan banyak unsur masyarakat, termasuk lingkungan pesantren. Perlawanan di Surabaya pada 10 November 1945 kemudian dikenang setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Pesantren Bukan Hanya Tempat Belajar Agama

Jauh dari gambaran sebagai tempat untuk mendalami ilmu agama semata, pesantren juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, para ulama dan santri berperan menyebarkan pendidikan, membangun kesadaran masyarakat, serta menanamkan nilai-nilai yang mendorong kepedulian terhadap bangsa.

Keterlibatan santri dalam perjuangan kemerdekaan menunjukkan bahwa pendidikan dan semangat kebangsaan dapat berjalan beriringan. Nilai-nilai yang dipelajari di pesantren turut menjadi landasan bagi sebagian santri untuk mengambil bagian dalam perjuangan sesuai keadaan pada masanya.

Peran tersebut juga tidak terbatas pada satu organisasi atau kelompok. Sejarah perjuangan Indonesia melibatkan tokoh agama dan masyarakat dari berbagai latar belakang yang memiliki tujuan bersama, yakni mempertahankan kemerdekaan.

Makna Hari Santri bagi Generasi Sekarang

Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober menjadi kesempatan untuk mengingat kembali kontribusi ulama dan santri dalam sejarah bangsa. Perjuangan pada masa kemerdekaan memang berbeda dengan tantangan yang dihadapi generasi saat ini.

Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan, kini generasi muda dapat berkontribusi melalui pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Santri juga memiliki kesempatan untuk berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang dipelajari di pesantren. Dengan demikian, Hari Santri bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan membangun Indonesia.

Sejarah Resolusi Jihad dan keterlibatan santri dalam perjuangan kemerdekaan menunjukkan bahwa sarung dan peci bukanlah satu-satunya gambaran kehidupan santri. Di balik identitas tersebut, terdapat sejarah pengabdian, keberanian, dan kontribusi terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Inalum Bidik Pasar Amerika Latin dan Karibia, Perkuat Hilirisasi Aluminium Indonesia
Pengosongan Aset PT KAI di Jalan Kemuning Medan Berlangsung Ricuh, Penghuni Bawa Obor dan Parang
Anthony Ginting Lolos 16 Besar Indonesia Masters 2026
Prabowo Sebut Swasembada Pangan Jadi Benteng Indonesia Hadapi Krisis Global
Klinik Berjalan di Atas Rel, KAI Divre I Sumut Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis
PT DI Pastikan Pesawat N219 Karya Anak Bangsa 100%