Senin, 02 November 2026

Bukan Salah Desain, Ini Alasan Tombol Lantai 13 Sering Hilang di Lift

Rizky Aisyah - Senin, 02 November 2026 14:58 WIB
Bukan Salah Desain, Ini Alasan Tombol Lantai 13 Sering Hilang di Lift
Ai
Mengapa sejumlah gedung dan hotel tidak mencantumkan lantai 13? Bukan karena lantainya tidak dibangun, tetapi ada kepercayaan dan pertimbangan bisnis di balik kebiasaan tersebut.

Topikseru.com -Pernah memperhatikan tombol lift di gedung bertingkat? Pada beberapa bangunan, urutan lantai terlihat tidak biasa. Setelah lantai 12, tombol berikutnya justru menunjukkan angka 14. Lalu, ke mana perginya lantai 13?

Fenomena ini bukan berarti gedung tersebut benar-benar kehilangan satu lantai. Dalam banyak kasus, lantai yang secara fisik merupakan lantai ke-13 hanya diberi nomor berbeda untuk menghindari penggunaan angka yang dianggap membawa kesialan.

Kebiasaan tersebut masih ditemukan di sejumlah gedung perkantoran, apartemen, dan hotel di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga:

Angka 13 Dianggap Membawa Kesialan

Salah satu alasan utama lantai 13 dihindari adalah kepercayaan bahwa angka tersebut membawa nasib buruk.

Ketakutan terhadap angka 13 dikenal dengan istilah triskaidekaphobia. Istilah ini merujuk pada ketakutan berlebihan terhadap angka 13.

Ada beberapa cerita yang sering dikaitkan dengan munculnya kepercayaan tersebut. Dalam tradisi Kristen, angka 13 kerap dihubungkan dengan kisah Perjamuan Terakhir yang dihadiri Yesus dan 12 muridnya. Yudas Iskariot, yang kemudian mengkhianati Yesus, sering disebut sebagai orang ke-13 dalam kisah tersebut.

Cerita lain berasal dari mitologi Nordik. Loki, sosok yang dikenal sebagai pembuat kekacauan, disebut hadir sebagai tamu ke-13 dalam sebuah jamuan para dewa.

Meski demikian, asal-usul pasti anggapan bahwa angka 13 membawa kesialan tidak dapat dipastikan hanya dari cerita-cerita tersebut. Keduanya merupakan penjelasan yang sering dikaitkan dengan berkembangnya takhayul angka 13.

Lantai 13 Sebenarnya Tetap Ada

Penghilangan angka 13 pada tombol lift biasanya hanya perubahan penomoran, bukan penghilangan lantai secara fisik.

Misalnya, sebuah gedung memiliki 20 lantai. Pengelola dapat membuat urutan penomoran dari lantai 12 langsung ke lantai 14. Padahal, lantai yang disebut 14 tersebut secara posisi merupakan lantai ke-13.

Ada pula gedung yang menggunakan sebutan 12A atau memberikan penomoran khusus untuk lantai tersebut.

Praktik ini pernah diteliti dalam artikel ilmiah yang diterbitkan jurnal Significance pada 2024. Penelitian terhadap sekitar 620 gedung kondominium di New York dengan lebih dari 13 lantai menemukan hanya 13,5 persen yang memiliki unit dengan alamat lantai 13.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penghindaran angka 13 bukan sekadar cerita atau anggapan yang tidak pernah diterapkan dalam dunia properti.

Pengembang Menghindari Angka 13 karena Pertimbangan Bisnis

Selain kepercayaan, ada alasan bisnis di balik kebiasaan tersebut.

Pengembang dan pengelola properti tentu ingin bangunannya menarik bagi calon pembeli maupun penyewa. Jika sebagian calon penghuni merasa tidak nyaman tinggal di lantai 13, penggunaan nomor tersebut berpotensi memengaruhi minat mereka.

Karena itu, mengganti penomoran menjadi 12A atau 14 dianggap sebagai cara sederhana untuk menghindari keberatan calon penghuni.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Significance juga membahas kemungkinan hubungan antara penamaan lantai dan nilai properti. Namun, setelah memperhitungkan faktor lain seperti lokasi dan ukuran unit, peneliti menemukan bahwa perubahan label lantai tidak memberikan pengaruh berarti terhadap harga jual.

Artinya, kebiasaan tersebut lebih berkaitan dengan tradisi dan upaya menyesuaikan diri dengan kepercayaan konsumen daripada keuntungan harga yang terbukti besar.

Bukan Hanya Angka 13, Angka 4 Juga Sering Dihindari

Menariknya, angka 13 bukan satu-satunya angka yang dihindari dalam penomoran gedung.

Di sejumlah negara dan bangunan yang mengikuti kebiasaan masyarakat Tionghoa, angka 4 juga kerap dilewati. Hal ini berkaitan dengan kemiripan bunyi kata empat dengan kata kematian dalam beberapa bahasa Tionghoa.

Karena itu, beberapa hotel dan apartemen memilih tidak mencantumkan lantai 4 pada tombol lift. Ada yang menggantinya dengan sebutan 3A atau menggunakan penomoran lain.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa penomoran gedung tidak selalu hanya mempertimbangkan urutan angka. Faktor budaya dan kebiasaan masyarakat juga dapat memengaruhi cara sebuah bangunan diberi nomor.

Apakah Semua Gedung Harus Menghilangkan Lantai 13?

Tidak. Penghilangan angka 13 bukan aturan yang berlaku untuk semua gedung.

Ada bangunan yang tetap menggunakan penomoran lantai secara berurutan, termasuk mencantumkan lantai 13. Keputusan tersebut dapat berbeda bergantung pada kebijakan pemilik, pengembang, dan ketentuan bangunan yang berlaku.

Pada akhirnya, lantai 13 bukanlah lantai yang secara fisik tidak ada. Angka tersebut hanya dihindari dalam penomoran karena kepercayaan dan pertimbangan pengelola terhadap calon penghuni.

Fenomena ini menjadi contoh bagaimana kebiasaan dan kepercayaan masyarakat masih dapat memengaruhi keputusan dalam pembangunan gedung modern.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
3 PKS Sumur Minyak Rakyat Aceh Ditandatangani, BPMA Dorong Lifting
Kebakaran Apartemen Teluk Intan, 53 Orang Sempat Terjebak
Kunjungan Wisman ke Sumut Turun 17,76 Persen pada Juni 2026, Capai 148.102 pada Semester I
Rekomendasi Hotel dengan Jacuzzi di Medan Plus Sajikan View Kota Melayu Deli yang Sangat Indah
Rekomendasi Hotel dengan Restoran Terbaik di Medan Sajikan Menu Super Lezat
Rekomendasi 6 Hotel dengan Infinity Pool Terbaik di Medan Cocok Bagi Keluarga Anda Menginap