Selasa, 03 November 2026

Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut: Tiga Tradisi Melayu Sumut yang Terancam Dilupakan

Rizky Aisyah - Selasa, 03 November 2026 17:12 WIB
Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut: Tiga Tradisi Melayu Sumut yang Terancam Dilupakan
Detik.com
Tidak banyak yang mengenal Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut. Padahal, ketiganya merupakan bagian dari tradisi Melayu Sumatera Utara yang menggambarkan kehidupan masyarakat di tepian sungai, kawasan pertanian, dan pesisir.

Topikseru.com -Sungai, sawah, dan laut bukan sekadar bagian dari bentang alam Sumatera Utara. Bagi masyarakat Melayu, ketiganya memiliki hubungan erat dengan kehidupan, sumber penghidupan, hingga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Hubungan tersebut tercermin dalam tiga tradisi yang dikenal sebagai Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut. Meski namanya sama-sama menggunakan kata jamu, ketiganya bukan minuman herbal seperti yang selama ini dikenal masyarakat.

Tradisi tersebut merupakan bagian dari kebudayaan Melayu yang berkaitan dengan rasa syukur, keselamatan, dan penghormatan terhadap alam. Setiap tradisi memiliki latar belakang berbeda sesuai dengan lingkungan tempat masyarakat menggantungkan kehidupannya.

Baca Juga:

Namun, keberadaan tradisi ini menghadapi tantangan. Perubahan lingkungan, berkurangnya ruang hidup masyarakat tradisional, hingga melemahnya pewarisan pengetahuan adat membuat sebagian tradisi semakin jarang dikenal generasi muda.

Jamu Sungai, Tradisi yang Berkaitan dengan Kehidupan di Tepian Air

Dalam kehidupan masyarakat Melayu, sungai memiliki peran penting. Selain menjadi sumber air, sungai dahulu menjadi jalur transportasi, tempat mencari penghidupan, dan lokasi berkembangnya permukiman.

Kedekatan tersebut melahirkan tradisi Jamu Sungai. Tradisi ini berkaitan dengan ungkapan rasa syukur atas keberadaan sungai sekaligus harapan agar masyarakat yang hidup di sekitarnya memperoleh keselamatan.

Di Kota Medan, salah satu kegiatan yang pernah dilakukan untuk memperkenalkan tradisi ini adalah Jamu Sungai oleh Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli (Kopasude) pada 2019. Kegiatan tersebut dilakukan dengan prosesi menghanyutkan lancang di Sungai Deli.

Pelaksanaan itu menjadi salah satu contoh upaya mengenalkan kembali hubungan budaya masyarakat Melayu dengan sungai. Meski demikian, kegiatan tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh bentuk pelaksanaan Jamu Sungai di berbagai daerah.

Tradisi ini juga mengingatkan masyarakat bahwa sungai bukan hanya tempat mengambil manfaat. Kondisi sungai yang rusak dan tercemar dapat mengancam kehidupan warga yang selama ini bergantung pada aliran air tersebut.

Jamu Bendang, Ungkapan Syukur Masyarakat Pertanian

Berbeda dengan Jamu Sungai, Jamu Bendang memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat agraris. Dalam istilah Melayu, bendang merujuk pada sawah atau lahan pertanian.

Tradisi ini berkaitan dengan rasa syukur atas kesuburan tanah, keberhasilan panen, serta harapan agar kegiatan pertanian berjalan dengan baik.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian, hasil panen bukan sekadar persoalan ekonomi. Ketersediaan pangan juga berhubungan dengan keberlangsungan keluarga dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Karena itu, Jamu Bendang mencerminkan hubungan masyarakat dengan tanah yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Akan tetapi, tradisi ini menghadapi persoalan ketika lahan pertanian semakin berkurang atau berubah fungsi. Ketika ruang hidup masyarakat agraris menyusut, kesempatan untuk mempertahankan tradisi yang berkaitan dengan kegiatan pertanian juga dapat ikut terpengaruh.

Kondisi tersebut membuat pelestarian Jamu Bendang tidak cukup dilakukan melalui pengenalan nama tradisi. Pengetahuan mengenai sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu diwariskan.

Jamu Laut Masih Dikenal di Pesisir Langkat

Dari ketiga tradisi tersebut, Jamu Laut memiliki dokumentasi dan kajian yang lebih banyak ditemukan. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Melayu pesisir yang menggantungkan penghasilan dari laut.

Salah satu wilayah yang dikenal memiliki tradisi Jamu Laut adalah Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat.

Bagi masyarakat setempat, laut merupakan sumber penghidupan sekaligus lingkungan yang memiliki risiko. Nelayan harus menghadapi perubahan cuaca, gelombang, dan berbagai kondisi yang dapat membahayakan keselamatan ketika melaut.

Tradisi Jamu Laut menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut serta harapan agar masyarakat mendapatkan keselamatan.

Penelitian mengenai tradisi Jamu Laut di Jaring Halus juga mencatat bahwa pelaksanaannya melibatkan masyarakat dan memiliki aturan adat tersendiri. Tradisi ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi turut membangun hubungan sosial antarmasyarakat.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026 di Journal of Sumatera Sociological Indicators, Jamu Laut dijelaskan memiliki peran dalam menjaga hubungan sosial, memperkuat gotong royong, dan membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi maupun lingkungan.

Artinya, nilai tradisi ini tidak hanya terlihat dari prosesi adat. Kebersamaan warga dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan juga menjadi bagian penting dari keberlangsungannya.

Mengapa Tradisi Ini Mulai Jarang Dikenal?

Perubahan zaman menjadi salah satu tantangan bagi keberlangsungan tradisi masyarakat Melayu. Generasi muda bisa saja pernah mendengar nama Jamu Sungai, Jamu Bendang, atau Jamu Laut, tetapi belum tentu memahami sejarah dan makna di baliknya.

Persoalan lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Sungai yang tercemar, perubahan kawasan pertanian, serta tekanan terhadap ekosistem pesisir dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Selain itu, pengetahuan adat yang hanya disampaikan secara lisan berisiko terputus ketika tidak ada proses pewarisan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, dokumentasi sejarah, keterlibatan tokoh adat, kegiatan pendidikan budaya, dan partisipasi komunitas muda menjadi bagian penting dalam pelestarian.

Tradisi tidak cukup hanya ditampilkan ketika ada acara kebudayaan. Masyarakat juga perlu memahami alasan sebuah tradisi dilakukan dan nilai apa yang ingin diwariskan.

Bukan Sekadar Ritual, tetapi Gambaran Hubungan Manusia dengan Alam

Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu Sumatera Utara membangun hubungan dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Sungai berkaitan dengan air dan kehidupan masyarakat tepian sungai. Bendang menggambarkan pentingnya tanah serta hasil pertanian. Sementara laut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan.

Ketiganya memiliki konteks berbeda, tetapi memperlihatkan nilai yang serupa, yakni rasa syukur dan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak terpisah dari alam.

Mengenalkan kembali tradisi tersebut menjadi penting agar kebudayaan Melayu Sumatera Utara tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah. Pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus disampaikan kepada generasi berikutnya.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Istana Maimun Punya Banyak Detail Unik, Apa Makna di Balik Arsitekturnya?
Pekan Budaya Medan 2026 Dibuka, Rico Waas Ajak Masyarakat Rawat Warisan Leluhur
Tergerus Zaman? 4 Tradisi Sumatera Utara Ini Menyimpan Warisan yang Tak Banyak Dikenal Anak Muda
Indonesia dan 3 Negara Ajukan Tari Zapin ke UNESCO pada 2027
Pesona Melayu Warnai Gala Dinner Rakernas APEKSI XVIII
Pemko Raih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Melayu Dialek Tanjungbalai