Topikseru.com - Kunci penyelesaian krisis keamanan di perairan Timur Tengah kini tertuju pada komitmen Washington. Pemerintah Iran menegaskan bahwa pemulihan stabilitas kawasan dan peredaan konflik hanya dapat terwujud apabila Amerika Serikat (AS) kembali mematuhi nota kesepahaman (MoU) Islamabad yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat menggelar pembicaraan diplomatik via telepon bersama Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Selasa (8/9/2026).
Araghchi menuding bahwa eskalasi militer yang kembali membara di koridor maritim vital tersebut berakar dari tindakan Washington yang mengabaikan komitmen hukum dalam nota kesepahaman tersebut.
"Solusinya sederhana. Kembalinya pihak AS pada komitmennya dan kepatuhan terhadap penandatanganan dalam nota kesepahaman Islamabad akan membuka jalan bagi kembalinya situasi normal," ujar Araghchi dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Perkembangan Jalur Transit Oman dan Skema Baru Selat Hormuz
Di tengah saling gertak antara Teheran dan Washington, Araghchi membeberkan adanya kemajuan substantif dalam negosiasi paralel yang tengah ditempuh Iran bersama Oman.
Pembicaraan khusus tersebut dirancang untuk membentuk koridor transit sementara guna menjamin kelancaran arus kapal dagang di Selat Hormuz.
Pemerintah Iran dan Kesultanan Oman terus mematangkan skema mekanistis terkait pengelolaan navigasi di selat strategis tersebut dalam jangka panjang agar tidak terus melumpuhkan pasokan energi global.
Meski demikian, diplomasi jalur transit ini berhadapan dengan sorotan tajam dari negara-negara konsumen energi, termasuk Jepang.
Desakan Ketat Jepang Soal Serangan Kapal Sipil dan Stabilitas Bab El-Mandeb
Merespons memanasnya ketegangan Selat Hormuz Iran AS, Menlu Jepang Toshimitsu Motegi menyampaikan keprihatinan mendalam atas dimulainya kembali kontak tembak antara armada militer AS dan pasukan Iran.
Motegi mendesak Teheran menunjukkan fleksibilitas tertinggi guna memutus kebuntuan politik yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Secara khusus, Tokyo menyampaikan protes keras atas berulangnya aksi penyerangan terhadap armada kapal komersial sipil yang melintas di perairan internasional.
"Sangat penting untuk sesegera mungkin memulihkan pelayaran yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz tanpa biaya tambahan," tegas Motegi.
Dia mengingatkan bahwa tata kelola keamanan jalur pelayaran internasional harus tunduk pada hukum laut internasional yang disepakati masyarakat global, bukan ditentukan secara sepihak oleh aksi militer.
Selain masalah Selat Hormuz, Jepang juga meminta pengaruh diplomasi Iran untuk menekan kelompok Houthi di Yaman agar menghentikan gangguan keandalan navigasi di Selat Bab El-Mandeb.
Tokyo memastikan bakal mempererat kerja sama dengan Pemerintah Yaman demi mengamankan rute perdagangan internasional di kawasan Red Sea tersebut.
Berita Terkait