Kamis, 24 September 2026

Profil Jenderal Besar AH Nasution, Arsitek Strategi Militer dan Pahlawan Nasional

Muchlis - Minggu, 06 September 2026 07:10 WIB
Profil Jenderal Besar AH Nasution, Arsitek Strategi Militer dan Pahlawan Nasional
Potret Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dalam pakaian dinas militer.
Topikseru.com - Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution mencatatkan namanya sebagai salah satu peletak dasar doktrin militer dan strategi pertahanan terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Pahlawan nasional asal Tapanuli Selatan ini tidak hanya memimpin penataan organisasi Angkatan Darat, melainkan juga berperan penting sebagai benteng kedaulatan negara di masa-masa kritis.

Dari Profesi Pendidik Menuju Medan Pertempuran

Lahir di Huta Pungkut, Kotanopan, pada 3 Desember 1918, Abdul Haris Nasution mengawali pendidikannya di Hollandsche Inlandsche School Kotanopan dan Sekolah Raja Bukittinggi. Dia kemudian melanjutkan studi ke Sekolah Guru Menengah di Bandung serta mengantongi ijazah Algemene Middelbare School B di Jakarta pada 1938. Sebelum menggeluti dunia militer, Nasution sempat mengabdikan diri sebagai pengajar di Bengkulu dan Palembang. Panggilan jiwanya pada bidang pertahanan mendorongnya mengikuti pendidikan Korps Perwira Cadangan KNIL di Bandung pada 1940. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 1945, karier militernya melesat cepat mulai dari penasihat Badan Keamanan Rakyat di Bandung hingga dipercaya menjadi Kepala Staf Komandemen TKR Jawa Barat dengan pangkat kolonel.

Konsolidasi Organisasi dan Arsitek Militer

[caption id="attachment_55317" align="alignnone" width="1200"]Potret Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dalam pakaian dinas militer. Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, tahun 1966. Foto: Arsip Kompas[/caption] Perjalanan kepemimpinan Jenderal Besar AH Nasution di tubuh tentara diwarnai berbagai fase krusial. Pada 1948, ia diangkat menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia sekaligus memimpin Divisi Siliwangi. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi sempat menyesuaikan pangkatnya kembali menjadi kolonel saat menjabat Kepala Staf Operasi Markas Besar Tentara dan Panglima Tentara dan Teritorium Jawa. Pasca-Perang Kemerdekaan, Nasution dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada 10 Desember 1949. Dinamika politik nasional sempat membawanya dibebaskan dari jabatan akibat Peristiwa 17 Oktober 1952. Selama masa nonaktif, ia mendirikan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia dan melahirkan karya-karya pemikiran militer. Nasution kembali dipercaya menjabat KSAD pada 1955. Kariernya terus menanjak hingga memegang posisi Menteri Keamanan Nasional, Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata dengan pangkat jenderal penuh, hingga akhirnya memimpin Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara pada awal era Orde Baru.

Strategi Membentengi Negara dari Anomali Politik

Dalam menghadapi dinamika politik pada dekade 1960-an, Nasution secara konsisten menolak gagasan pembentukan Angkatan Kelima atau persenjataan buruh dan tani, serta menentang penyeragaman ideologi di tubuh ABRI. Guna memperkuat ketahanan nasional dari jalur non-militer, ia mendorong pembentukan wadah kekaryaan, konsolidasi penerbitan media militer, penataan Biro Sejarah, hingga pembentukan Pertahanan Sipil, Resimen Mahasiswa, dan pendirian Lembaga Pertahanan Nasional pada 1965.

Puncak Pengabdian dan Penghormatan Negara

Setelah pensiun dari dinas aktif pada 1972, Nasution terus menyumbangkan pemikirannya melalui berbagai buku monumental seperti Pokok-pokok Gerilya dan Sekitar Perang Kemerdekaan. Atas jasa luar biasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan pangkat tertinggi berupa Jenderal Besar TNI Kehormatan pada 30 September 1997 melalui Keputusan Presiden Nomor 46/ABRI/1997. Tokoh yang lolos dari ancaman pada peristiwa G30S ini wafat pada 6 September 2000 dan mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 2002.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak Minta Maaf Jembatan Garuda Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan
Prajurit TNI AD Divonis Penjara Seumur Hidup atas Pembunuhan Berencana terhadap Istri di Deli Serdang
Pratu Farkhan Sauqi Marpaung Tewas di Papua, TNI AD Pastikan Usut Dugaan Kekerasan Senior
Dugaan Kekerasan Senior, Pratu Farkhan TNI AD Tewas Saat Tugas di Perbatasan RI–PNG
Sumatera Utara Bangga, Tuan Rondahaim Saragih Garingging Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025
Ketika Pena Membara: 10 Pahlawan Nasional yang Berangkat dari Dunia Jurnalistik