Topikseru.com, Jakarta - Pada awal perdagangan hari ini. Selasa (28/7/2026) nilai tukar rupiah terus tertekan dibuka di level Rp 18.069 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Ternyata, hal ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,33% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.009 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,39%.
Disusul, won Korea Selatan ambles 0,34%. Selanjutnya ada baht Thailand yang tertekan 0,2% dan peso Filipina turun 0,1%. Lalu, yuan China tergelincir 0,03%.
Kemudian yen Jepang melemah tipis 0,02% terhadap the greenback pada pagi ini.
Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik 0,01%. Diikuti, ringgit Malaysia yang menguat 0,007%.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bakal Loyo Dipicu Gubernur BI Mundur
Pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih dibayangi tren pelemahan akibat kombinasi sentimen domestik dan ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (27/7/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,26% ke level Rp 18.009 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sejalan dengan pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga berada di level Rp 17.995 per dolar AS, terkoreksi dari posisi Jumat (24/7/2026) yang sebesar Rp 17.973 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi mencatat rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 46 poin ke level Rp 18.009 per dolar AS setelah sempat terdepresiasi hingga 50 poin.
Menurut Ibrahim, pasar merespons negatif mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang surat pengunduran dirinya telah diterima oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pengunduran diri ini terjadi di tengah gonjang-ganjing rupiah akibat tekanan geopolitik antara AS dan Iran serta isu intervensi terhadap independensi BI.
Di sisi eksternal, indeks dolar AS cenderung melemah seiring dengan langkah Washington untuk menghentikan sementara serangan ke Iran untuk memberi ruang bagi diplomasi.
Investor juga mendapat sentimen positif dari upaya Tiongkok menghidupkan kembali dialog perdamaian, meskipun para pelaku pasar tetap mewaspadai gangguan pengiriman komoditas di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Selain itu, ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish masih menahan potensi penguatan mata uang kawasan, di mana instrumen CME FedWatch menunjukkan peluang 78% kenaikan suku bunga AS pada September mendatang.
Ibrahim turut menyoroti indikator rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40% terhadap PDB.
Ia menilai kesehatan fiskal tidak cukup diukur dari persentase utang belaka, melainkan dari kemampuan riil pemerintah membayar pokok beserta bunga utang terhadap pendapatan negara.
Untuk perdagangan Selasa (28/7/2026), Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah akan cenderung fluktuatif namun berisiko ditutup melemah dalam rentang Rp 18.010 – Rp 18.060 per dolar AS.
Berita Terkait