Senin, 28 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,46% di Level Rp17.945 per dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Rabu, 05 Agustus 2026 10:39 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,46% di Level Rp17.945 per dolar AS Pagi Ini
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (5/8/2026) nilai tukar rupiah dibuka menguat berada di level Rp 17.945 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah menguat 0,46% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.027 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Di mana Won Korea mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,48%, disusul rupiah yang menguat 0,46%, dolar Taiwan menguat 0,43%. Sementara, peso Filipina menguat 0,41%, ringgit Malaysia menguat 0,13%. Yen Jepang menguat 0,10%, baht Thailand menguat 0,08%, dolar Singapura menguat 0,04% dan yuan China yang menguat 0,004%. Sedangkan dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS pagi ini, dengan pelemahan 0,003%. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,88, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,85.

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diramalkan Berada di Rentang Rp17.900–Rp18.200 per Dolar AS Hingga Akhir 2026

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipicu oleh memburuknya neraca perdagangan, tingginya harga minyak dunia, serta menguatnya daya tarik aset-aset berdenominasi dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (4/8/2026) pukul 14.59 WIB, rupiah pasar spot ditutup melemah 0,49% atau 89,50 poin ke level Rp 18.021,50 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda berasal dari kombinasi faktor eksternal yang masih dominan serta sejumlah tantangan domestik, terutama pada sektor perdagangan dan arus modal. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, salah satu penyebab utama rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS adalah memburuknya neraca perdagangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut. Pada Juni 2026, defisit tercatat sebesar US$ 450 juta, setelah pada Mei mencapai US$ 1,61 miliar. Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan impor yang melonjak 34,27% secara tahunan (year on year/YoY), jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 8,84%. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$ 85–US$ 89 per barel akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi. "Kondisi tersebut meningkatkan permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ujar Josua. Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan rupiah. "Kembalinya rupiah ke level Rp 18.000 setelah sempat menguat ke Rp 17.900 menunjukkan tekanan eksternal masih lebih dominan dibandingkan faktor domestik," kata Rizal. Ia menjelaskan, kombinasi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta kenaikan harga minyak dunia terus mendorong peningkatan permintaan valuta asing untuk impor. Di sisi lain, kebijakan moneter Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian pasar. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, sementara kenaikan imbal hasil US Treasury membuat aset dolar AS tetap menarik bagi investor global. Arus modal masih rapuh Josua menilai dukungan terhadap rupiah juga terbatas karena kualitas arus modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi jangka pendek. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, pasar saham Indonesia mencatat arus keluar (capital outflow) sekitar US$ 4,55 miliar. Sebaliknya, arus masuk investor asing justru terkonsentrasi pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai US$ 9,72 miliar. "Namun, ketergantungan pada instrumen BI yang berjangka pendek dan berimbal hasil tinggi membuat dukungan terhadap rupiah mudah berbalik ketika selera risiko global berubah," jelas Josua. Sementara itu, Rizal menilai isu tata kelola dan kepatuhan di pasar modal juga turut memengaruhi persepsi investor asing, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menggulirkan berbagai agenda reformasi. "Reformasi kebijakan bursa memang memengaruhi persepsi investor, tetapi bukan satu-satunya penyebab," ujarnya. Rupiah masih berpotensi volatil Dalam jangka pendek, kedua ekonom memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi volatilitas tinggi seiring ketidakpastian global yang belum mereda. Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.250 per dolar AS dalam waktu dekat. "Rupiah dapat beberapa kali bergerak di bawah Rp 18.000 ketika BI melakukan intervensi atau harga minyak turun. Namun, penguatan tersebut sulit bertahan selama neraca perdagangan masih defisit dan pasar masih memperkirakan suku bunga AS tetap tinggi," katanya. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Josua menyarankan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% serta mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun domestik non-deliverable forward (DNDF). Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan cadangan devisa sebesar US$ 145,6 miliar tetap dilakukan secara terukur. Adapun Rizal memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.300 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang. "Hingga ketidakpastian global mereda, rupiah masih berpotensi bergerak volatil," katanya. Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Josua memperkirakan rupiah berada di rentang Rp 17.900–Rp 18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.050. Sementara itu, Rizal memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.800–Rp 18.200 per dolar AS, dengan level keseimbangan di sekitar Rp 18.000 per dolar AS.

Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Terjatuh di Zona Merah Ditutup di Level Rp17.758 per Dolar AS