Baca Juga:Program tersebut diresmikan pada Rabu (23/9/2026) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PELNI.
Bukan sekadar menyalurkan bantuan, program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha yang bersumber dari potensi lokal, mulai dari perikanan tangkap, budidaya ikan, pengolahan hasil laut hingga wisata berbasis masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa mengabaikan pelestarian ekosistem laut.
Baca Juga:Lutfi menyampaikan sambutan mewakili Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI dalam peresmian program tersebut.
Menurut dia, kekayaan alam dan budaya di Kapota tidak seharusnya berhenti sebagai potensi. Dengan pengelolaan yang tepat, sumber daya tersebut dapat menciptakan nilai tambah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
"Pulau Kapota memiliki potensi kelautan, perikanan, dan kearifan lokal yang sangat baik untuk dikembangkan. Melalui program ini, kami ingin mendorong masyarakat menjadi aktor utama dalam mengembangkan potensi tersebut sehingga dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Lutfi.
Konsep tersebut menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama. PELNI melalui program TJSL memberikan dukungan berupa pendampingan, pengetahuan dan penguatan kelembagaan agar kegiatan ekonomi dapat berjalan lebih mandiri.
Baca Juga:
Salah satunya adalah pengembangan usaha perikanan tangkap. Masyarakat juga mendapatkan pendampingan untuk menerapkan teknologi penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, PELNI bersama mitra membangun Demonstration Plot (Demplot) budidaya ikan kerapu.
Demplot tersebut berfungsi sebagai lokasi pembelajaran sekaligus percontohan bagi masyarakat dalam mengembangkan budidaya perikanan.
Dengan adanya sarana percontohan, masyarakat diharapkan dapat mempelajari teknik budidaya dan kemudian mengembangkan usaha serupa sesuai dengan kondisi setempat.
Program juga mencakup pengembangan wisata masyarakat yang memanfaatkan potensi alam dan budaya Pulau Kapota.
Pendampingan tersebut mencakup penguatan pengetahuan masyarakat, pemanfaatan teknologi, pengembangan usaha serta penguatan kelembagaan.
Model pendampingan ini dirancang agar program TJSL tidak berhenti ketika bantuan diberikan. Masyarakat diharapkan memiliki kapasitas untuk mengelola dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya PELNI menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi yang lebih luas.
PELNI memberikan 100 buah life jacket kepada nelayan Pulau Kapota.
Pemberian perlengkapan keselamatan itu ditujukan untuk mendukung aktivitas masyarakat yang sehari-hari bergantung pada laut.
Bagi masyarakat kepulauan seperti Kapota, keselamatan menjadi bagian penting dari keberlanjutan kegiatan ekonomi kelautan. Karena itu, pengembangan usaha perikanan tidak hanya membutuhkan peningkatan produktivitas, tetapi juga perhatian terhadap keamanan nelayan saat bekerja.

"Program ini bukan hanya mengenai bantuan, tetapi bagaimana kita bersama-sama membangun ekosistem usaha yang dapat berjalan secara mandiri, memberikan nilai tambah bagi produk lokal, membuka peluang usaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami berharap pendampingan dan kolaborasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang," kata Lutfi.
Pemilihan Pulau Kapota sebagai lokasi program juga mempertimbangkan keberadaan sistem adat dan kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat.
Nilai tersebut menjadi modal penting dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Pengembangan ekonomi kemudian diarahkan agar tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
Potensi yang dikembangkan mencakup perikanan tangkap, budidaya perikanan, pengolahan hasil laut hingga inovasi yang mendukung praktik ramah lingkungan.
Program tersebut ditempatkan dalam pilar ekonomi, khususnya TPB 10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan.
Fokusnya adalah mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah, agar dapat berkembang secara progresif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, program TJSL PELNI mencakup sejumlah bidang, yakni sosial, ekonomi, lingkungan, serta tata kelola dan hukum.
Di Pulau Kapota, pendekatan tersebut diterapkan melalui kombinasi penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan kapasitas, keselamatan nelayan, serta pelestarian potensi kelautan dan kearifan lokal.
Dengan model tersebut, potensi laut dan wisata Pulau Kapota diharapkan tidak hanya menjadi aset alam dan budaya, tetapi juga berkembang menjadi basis ekonomi masyarakat yang mampu bertahan dalam jangka panjang.