Kamis, 22 Oktober 2026

Menko Airlangga Yakin Industri AI Sumbang Rp 7.202 Triliun

Agus Supratman - Kamis, 22 Oktober 2026 11:01 WIB
Menko Airlangga Yakin Industri AI Sumbang Rp 7.202 Triliun
Ilustrasi: idwebhost
Domain .ai.id adalah ekstensi domain tingkat kedua berbasis kode negara (country code top-level domain / ccTLD) di Indonesia yang dirancang khusus sebagai identitas digital resmi bagi ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence / AI) nasional. Domain ini diluncurkan melalui kolaborasi oleh KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial) dan PANDI

Topikseru.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan potensi kontribusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian Indonesia dapat mencapai US$360 miliar hingga US$400 miliar atau Rp 7.202 triliun (kurs Rp 18.006/US$) pada 2030.

Untuk mengejar potensi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari penguatan infrastruktur digital dan energi, pengembangan talenta digital, percepatan adopsi AI di berbagai sektor, hingga penguatan tata kelola dan kerja sama internasional.

Airlangga mengatakan ekonomi digital Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Nilainya diproyeksikan mencapai US$100 miliar hingga US$130 miliar pada tahun ini.

Baca Juga:

Besarnya potensi ekonomi digital dan AI tersebut dinilai perlu diikuti dengan penerapan teknologi secara nyata, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, serta menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi.

"Indonesia tidak hanya membutuhkan wacana tentang AI semata, melainkan eksekusi nyata dari strategi hingga dampak langsung. AI harus menjadi katalisator bagi produktivitas, daya saing industri, UMKM yang lebih kuat, lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta pelayanan publik yang lebih baik," ujar Airlangga saat menyampaikan pidato kunci secara virtual dalam The Artificial Intelligence Impact Summit 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (22/10/2026).

Gunamewujudkan kedaulatan AI atau Sovereign AI, pemerintah menetapkan empat prioritas strategis.

Pertama, memperkuat infrastruktur digital dan ketahanan energi. Pemerintah menyiapkan tambahan kapasitas listrik hingga 70 gigawatt (GW) melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, serta program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp).

Penguatan pasokan energi ini diperlukan untuk menopang kebutuhan pusat data atau data center nasional yang terus berkembang. Saat ini, kapasitas pusat data Indonesia disebut berada di kisaran 0,45 GW hingga 0,58 GW.

Kedua, pemerintah membidik pemenuhan kebutuhan 9 juta talenta digital pada 2030. Upaya tersebut dilakukan melalui program Beasiswa Digital Talent, insentif Super Tax Deduction hingga 200% untuk kegiatan pelatihan vokasi, serta kolaborasi Danantara dan Arm.

Melalui kerja sama dengan Arm, pemerintah menargetkan pelatihan 15.000 insinyur desain cip semikonduktor dalam kurun waktu tiga tahun.

Ketiga, pemerintah akan mempercepat adopsi AI di sektor manufaktur, rantai pasok, dan layanan publik. Implementasinya mencakup sistem perizinan berusaha melalui Online Single Submission (OSS), logistik, perpajakan, hingga layanan kesehatan.

Pemerintah akan memanfaatkan basis digital domestik yang besar, dengan 229 juta pengguna internet dan 22 juta UMKM yang telah terdigitalisasi. Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) didorong menjadi pusat riset dan komersialisasi teknologi.

Keempat, pemerintah memperkuat tata kelola AI dan kolaborasi global. Indonesia berpartisipasi sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), yang menurut Airlangga berpotensi membuka peluang investasi baru senilai US$8 miliar hingga US$12 miliar.

Pemerintah juga memperkuat kerja sama Indonesia-Singapura melalui Project NUSA untuk memperluas akses terhadap teknologi AI yang aman dan tepercaya, sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja baru.

Airlangga menegaskan, pemanfaatan AI di berbagai sektor harus mengutamakan keamanan, akuntabilitas, perlindungan publik, dan kepastian regulasi.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem AI nasional, sejumlah inisiatif turut diluncurkan, yakni AI.ID, KORIKA Claw, KORIKA Token, serta KORIKA Project NUSA. Inisiatif tersebut diarahkan untuk menyediakan instrumen praktis berbasis bahasa Indonesia yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Menurut Airlangga, pengembangan AI tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan teknologi. Penerapannya juga harus mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang luas, baik melalui peningkatan produktivitas industri maupun penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Pemerintah berharap transformasi digital dan pengembangan AI dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
5 Aplikasi Edit Video AI Gratis, Bisa Bikin Konten Tanpa Harus Jago Editing
Jong Batak’s Arts Festival 2026 Digelar di Medan, Ini Jadwal dan Tema yang Diusung
Klinik Berjalan di Atas Rel, KAI Divre I Sumut Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis
Dikira Salju, Ternyata Mineral! Menguak Rahasia Bukit Putih di Pemandian Air Panas Sipoholon
Jaksa Tuntut 3 Bulan, Hakim Maafkan Penjual Starlink Ilegal di Mentawai karena Bantu Warga Akses Internet
Prabowo Setuju Usulan Luhut Revisi Definisi Korupsi: UU Tipikor Bakal Tidak Sebut Kerugian Negara