Sabtu, 24 Oktober 2026

Belanja Rokok dan Tembakau Warga Tembus Rp94 Ribu per Bulan

Agus Supratman - Sabtu, 24 Oktober 2026 12:09 WIB
Belanja Rokok dan Tembakau Warga Tembus Rp94 Ribu per Bulan
Sumber: adminpajak
Pengeluaran masyarakat Indonesia rata-rata untuk membeli rokok dan produk tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan pada Maret 2026. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp91.708 per kapita per bulan.

Topikseru.com, Medan - Pengeluaran masyarakat Indonesia rata-rata untuk membeli rokok dan produk tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan pada Maret 2026. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp91.708 per kapita per bulan.

Kondisi ini dipastikan melampaui anggaran belanja sejumlah bahan pangan bergizi. Bahkan, uang yang dihabiskan untuk rokok setiap bulan lebih besar dibandingkan total pengeluaran untuk daging, telur, dan susu.

Fakta tersebut terungkap dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026 yang dipublikasikan pada 5 Oktober 2026.

Baca Juga:

Berdasarkan laporan yang ada, rata-rata pengeluaran masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Menariknya, belanja rokok masyarakat perdesaan justru lebih tinggi, yakni mencapai Rp100.951 per kapita per bulan, dibandingkan masyarakat perkotaan yang sebesar Rp89.683.

Kenaikan belanja rokok terjadi seiring meningkatnya pengeluaran konsumsi masyarakat secara keseluruhan. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia mencapai Rp1.657.281 per kapita per bulan pada Maret 2026, naik dari Rp1.569.088 pada Maret 2025.

Secara garis besar, rokok dan tembakau menyumbang 11,57 persen dari total pengeluaran makanan masyarakat. Angka tersebut sekaligus menempatkan rokok sebagai kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi.

Besarnya alokasi belanja rokok ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mempercepat penurunan angka stunting.

Di Sumut juga Meningkat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara yang dirilis pada 24 Desember 2024, kebiasaan merokok lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan dengan sebesar 31,51%, dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang mencapai 27,25%.

Persentase perokok di provinsi Sumatera Utara pada kelompok usia 15-25 tahun sebesar 27,46 % pada tahun 2019, 27,28% pada tahun 2020, 27,24% pada tahun 2021, 25,32% pada tahun 2022. Berdasarkan data tersebut diketahui terjadi penurunan persentasi perokok dari tahun 2019 sampai dengan 2022, akan tetapi di tahun 2023 meningkat kembali sebesar 26,28% dan tahun berikutnya (2024) 27,69%.

Berdasarkan data diatas kelompok perokok aktif terbesar adalah usia 15-25 tahun, salah satu kelompok perokok aktif tersebut adalah mahasiswa. Mahasiswa adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perilaku merokok.

Mahasiswa sering mengalami tekanan akademik, sosial, dan emosional yang menyebabkan stres, mereka dapat cenderung mencari cara untuk meredakan stres, salah satunya adalah merokok

Belanja Rokok Lebih Besar Dari Daging, Telur, Susu

Jika dibandingkan dengan kebutuhan pangan sehari-hari, pengeluaran untuk rokok dan tembakau menunjukkan selisih yang cukup mencolok.

Menurut data BPS, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk membeli daging hanya mencapai Rp40.352 per kapita per bulan. Sementara itu, anggaran untuk telur dan susu tercatat sebesar Rp44.915 per kapita per bulan.

Artinya, apabila pengeluaran untuk daging, telur, dan susu digabungkan, totalnya hanya mencapai Rp85.267 per kapita per bulan. Jumlah tersebut masih lebih rendah Rp8.913 dibandingkan rata-rata belanja rokok dan tembakau yang mencapai Rp94.180 per kapita per bulan.

Tidak hanya melampaui pengeluaran untuk bahan pangan sumber protein, belanja rokok juga lebih besar daripada anggaran untuk membeli buah-buahan.

BPS mencatat, masyarakat Indonesia rata-rata mengeluarkan Rp46.010 per kapita per bulan untuk buah-buahan. Nilainya hanya sekitar separuh dari pengeluaran untuk rokok dan tembakau.

Perbandingan serupa terlihat pada kelompok padi-padian, yang mencatat rata-rata pengeluaran sebesar Rp92.141 per kapita per bulan pada Maret 2026. Angka tersebut masih berada di bawah belanja rokok, dengan selisih Rp2.039.

Bahkan, pengeluaran untuk rokok dan tembakau juga jauh melampaui kebutuhan sandang. Rata-rata belanja masyarakat untuk pakaian, alas kaki, dan tutup kepala tercatat sebesar Rp39.908 per kapita per bulan.

Konsumsi Rokok Terus Meningkat

Selain mencatat besarnya pengeluaran, laporan BPS juga menunjukkan adanya peningkatan tingkat partisipasi konsumsi rokok di Indonesia.

Berdasarkan data konsumsi menurut jenis makanan di wilayah perkotaan dan perdesaan, tingkat partisipasi konsumsi rokok mencapai 67,59 persen pada Maret 2026. Persentase tersebut meningkat dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar 67,06 persen.

Adapun rokok kretek filter menjadi jenis rokok yang paling dominan dikonsumsi masyarakat, dengan tingkat partisipasi konsumsi mencapai 48,56 persen pada Maret 2026.

Perbandingan antara pengeluaran rokok dan bahan pangan bergizi memperlihatkan tantangan dalam mendorong pola konsumsi yang lebih sehat, meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, serta mendukung upaya penurunan angka stunting di Indonesia.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Larangan Pakai Vape di Lingkungan ASN Sumut Diapresiasi Kapolri
Kota Mana yang Penduduknya Paling Padat? Ini Data BPS 2026 dan Tantangan Transportasinya
Kemiskinan Masih Hantui Sumut, 1,11 Juta Warga Masuk Kategori Miskin
BPS Catat Pengangguran Medan 7,99 Persen, Persaingan Kerja Jadi Sorotan
7 Jajanan Masa Kecil yang Kini Mulai Sulit Ditemukan, Bikin Kangen Zaman Dulu
NTP Sumut Naik 0,64 Persen, Cabai hingga Sawit Jadi Penopang Pendapatan Petani