Kamis, 24 September 2026

Gelombang Panas AS Tewaskan 25 Orang, 40 Juta Warga dalam Peringatan Cuaca Ekstrem

Muchlis - Senin, 06 Juli 2026 14:39 WIB
Gelombang Panas AS Tewaskan 25 Orang, 40 Juta Warga dalam Peringatan Cuaca Ekstrem
Gelombang panas Amerika Serikat
Topikseru.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat dalam sepekan terakhir dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 25 orang dan memicu status peringatan panas bagi lebih dari 40 juta penduduk di berbagai wilayah negara tersebut. Kondisi cuaca ekstrem itu kini meluas dari pantai timur, kawasan tenggara, hingga wilayah barat daya AS, di tengah ancaman badai petir dan potensi banjir bandang. Laporan terbaru yang dikutip dari NBC News menyebutkan, negara bagian New Jersey menjadi wilayah dengan korban jiwa tertinggi akibat suhu ekstrem, yakni mencapai 22 orang. Sementara itu, Illinois melaporkan satu korban meninggal dunia dan Mississippi mencatat dua korban jiwa akibat dampak gelombang panas berkepanjangan. Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat atau National Weather Service (NWS) memperingatkan bahwa cuaca buruk masih berpotensi terjadi hingga awal pekan ini. Selain suhu panas berbahaya, badai petir diprediksi memicu angin kencang, hujan es, hingga banjir bandang lokal yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak sejumlah wilayah di pesisir timur AS. Peringatan banjir juga masih diberlakukan bagi sekitar 34 juta penduduk yang tinggal di wilayah Delaware hingga Connecticut, termasuk sebagian besar area New York. Para ahli meteorologi memperkirakan curah hujan di beberapa wilayah dapat mencapai tiga inci atau sekitar 7,6 sentimeter dalam waktu singkat. Situasi cuaca ekstrem tersebut turut berdampak pada infrastruktur kelistrikan. Badai yang menyertai gelombang panas menyebabkan pemadaman listrik yang memengaruhi ratusan ribu pelanggan di sejumlah negara bagian bagian timur Amerika Serikat. NWS menegaskan bahwa status peringatan panas tetap berlaku hingga Minggu malam waktu setempat di sebagian besar wilayah pantai timur. Tingkat indeks panas - ukuran yang menggambarkan suhu yang dirasakan tubuh ketika kelembapan dikombinasikan dengan temperatur udara - diperkirakan berada di kisaran 100 hingga 105 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,7 hingga 40,5 derajat Celsius. Kondisi tersebut diprediksi terjadi di sejumlah kota besar seperti Philadelphia, Washington D.C., Baltimore, Raleigh, Charleston di South Carolina, hingga Jacksonville, Florida. Tingginya kelembapan udara membuat suhu terasa jauh lebih menyengat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, serta kelompok rentan. Di New York, Departemen Kesehatan setempat mencatat lebih dari 378 warga telah mendatangi instalasi gawat darurat akibat penyakit yang berkaitan dengan gelombang panas. Mayoritas pasien mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan pernapasan. Meski prakiraan cuaca menunjukkan suhu di sebagian besar wilayah pantai timur akan mulai menurun dalam beberapa hari ke depan, para peramal cuaca mengingatkan bahwa ancaman panas ekstrem belum sepenuhnya berakhir. Suhu maksimum siang hari diperkirakan masih berkisar antara 70 hingga 90 derajat Fahrenheit atau sekitar 21 sampai 32 derajat Celsius sepanjang pekan ini. Sementara itu, wilayah barat daya Amerika Serikat justru diprediksi menghadapi fase panas yang lebih parah pada pertengahan pekan. NWS telah mengeluarkan peringatan panas ekstrem untuk sejumlah wilayah di California dan Arizona, termasuk Phoenix dan Tucson, mulai Selasa hingga Kamis mendatang. Di dua kota tersebut, suhu udara pada siang hari diperkirakan dapat menembus 114 derajat Fahrenheit atau sekitar 45,5 derajat Celsius. Kondisi itu meningkatkan risiko kebakaran hutan, gangguan kesehatan massal, hingga tekanan terhadap pasokan listrik akibat lonjakan penggunaan pendingin udara. Gelombang panas yang melanda Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir semakin sering dikaitkan dengan dampak perubahan iklim global. Para ilmuwan menyebut peningkatan suhu bumi telah memperbesar kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem dengan intensitas lebih tinggi dan durasi lebih panjang.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Pemprov Sumut - AS Perkuat Kemitraan Strategis
Imperialisme Modern dan 'New Western Century': Dunia Sedang Berubah
Puting Beliung Terjang Tarutung, Enam Rumah Warga Rusak
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Sumut: Hujan Petir dan Gelombang 4 Meter