Topikseru.com - Magnesium belakangan semakin populer dikonsumsi sebagai suplemen sebelum tidur. Mineral tersebut kerap dikaitkan dengan kemampuan membantu tubuh lebih rileks sehingga tidur disebut bisa menjadi lebih berkualitas.
Namun, anggapan bahwa magnesium bisa membuat tidur lebih nyenyak perlu ditempatkan secara tepat. Magnesium bukan obat tidur dan konsumsi suplemen magnesium tidak otomatis membuat seseorang mengantuk.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH, menjelaskan bahwa magnesium memang memiliki sejumlah fungsi yang berkaitan dengan sistem saraf, otot, serta mekanisme tidur dan bangun.
Baca Juga:
"Magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Tetapi magnesium bukan satu-satunya mineral yang mendukung kualitas tidur," ujar Yunita.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa magnesium menjadi penyebab langsung membaiknya kualitas tidur.
Artinya, seseorang yang mengonsumsi magnesium belum tentu akan langsung mendapatkan tidur lebih lama atau lebih nyenyak.
Perbedaan antara korelasi dan sebab-akibat menjadi hal penting ketika membahas manfaat magnesium untuk tidur.
Menurut Yunita, fungsi magnesium lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses fisiologis tubuh yang mendukung kerja sistem saraf dan mekanisme tidur-bangun.
Mineral ini membantu menjaga aktivitas saraf tetap terkendali, termasuk dengan memengaruhi jalur glutamat/NMDA yang berkaitan dengan mekanisme rangsangan di otak.
Ketika aktivitas rangsangan saraf dapat dikendalikan, tubuh memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk memasuki fase istirahat.
Magnesium juga mendukung kerja gamma-aminobutyric acid (GABA). GABA merupakan neurotransmiter yang berperan menghambat aktivitas sistem saraf sehingga membantu menciptakan kondisi otak yang lebih tenang.
Selain sistem saraf, magnesium juga berperan dalam pengaturan mineral lain seperti kalsium dan kalium.
Mineral tersebut juga berkaitan dengan mekanisme ritme sirkadian serta jalur melatonin yang berhubungan dengan siklus tidur dan bangun.
"Jadi sangat tidak tepat jika magnesium dikatakan sebagai obat tidur atau membuat mengantuk," tegas Yunita.
Karena itu, mengonsumsi magnesium sebelum tidur tidak berarti seseorang pasti akan langsung merasa mengantuk.
Begitu pula, konsumsi suplemen magnesium tidak menjamin seseorang otomatis mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.
Efek yang dirasakan seseorang juga dapat berbeda karena kualitas tidur dipengaruhi banyak faktor.
Gangguan tidur memiliki banyak kemungkinan penyebab. Salah satunya adalah hyperarousal, yakni kondisi ketika tubuh sudah merasa lelah tetapi otak dan sistem saraf masih berada dalam kondisi aktif.
Dalam situasi tersebut, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk mulai tidur meskipun secara fisik sudah merasa lelah.
Faktor psikologis dan kebiasaan sehari-hari juga dapat ikut memengaruhi kualitas tidur.
Stres dan kecemasan, misalnya, dapat membuat pikiran tetap aktif ketika seseorang seharusnya mulai beristirahat.
Penggunaan gawai hingga larut malam, jadwal tidur yang berubah-ubah serta konsumsi minuman berkafein dapat mengganggu pola tidur.
Kopi, teh pekat dan minuman energi mengandung kafein yang dapat membuat seseorang tetap terjaga. Nikotin juga dapat memengaruhi kondisi tubuh dan tidur.
Karena itu, memperbaiki kualitas tidur tidak cukup hanya dengan mengandalkan suplemen magnesium.
Pola tidur yang konsisten, aktivitas fisik secara teratur serta pemenuhan kebutuhan berbagai vitamin dan mineral juga menjadi bagian penting dari kebiasaan hidup yang mendukung tidur.
Magnesium tidak dapat diposisikan sebagai pengganti obat tidur dan bukan solusi tunggal untuk berbagai gangguan tidur.
Bagi orang yang mengalami kesulitan tidur secara terus-menerus, penting untuk melihat penyebabnya secara lebih menyeluruh, bukan langsung menyimpulkan bahwa tubuh kekurangan magnesium.
Dengan demikian, manfaat magnesium untuk tidur sebaiknya dipahami sebagai bagian dari fungsi mineral tersebut dalam tubuh, bukan sebagai jaminan bahwa seseorang akan langsung mengantuk atau tidur lebih nyenyak setelah mengonsumsinya.
Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, penyebabnya perlu dievaluasi dengan tepat oleh tenaga kesehatan.