Jumat, 25 September 2026

PP HIMMAH Kritik Pelindo yang Dinilai Tidak Empati terhadap Bencana di Pulau Sumatera

Mhd Rabbani - Rabu, 28 Januari 2026 21:19 WIB
PP HIMMAH Kritik Pelindo yang Dinilai Tidak Empati terhadap Bencana di Pulau Sumatera
PP HIMMAH Kritik Pelindo
Topikseru.com, Jakarta - Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Wasliyah (PP HIMMAH), Abdul Razak Nasution menyampaikan keprihatinan mendalam atas kegiatan yang dilakukan oleh manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Pusat di tengah penanganan bencana alam yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera. Razak menilai kegiatan internal Pelindo yang dipublikasikan melalui kanal media sosial resmi Pelindo pada 8 Januari 2026 lalu, mencerminkan sikap yang tidak empati terhadap musibah banjir dan bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang notabene merupakan wilayah kerja Pelindo. “Di saat masyarakat Sumatera masih berjuang memulihkan diri dari bencana, Pelindo justru mempertontonkan kegiatan yang bernuansa hura-hura dan pesta ,serta pemborosan. Ini sangat melukai perasaan para korban bencana,” ujar Razak. Menurutnya, kegiatan tersebut juga tidak sejalan dengan arah kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan prinsip efisiensi, penghematan, serta semangat ‘kencangkan ikat pinggang’ pada semua instansi termasuk BUMN, Iya juga menyinggung bahwa Pelindo belum menjalankan Asta Cita Presiden Prabowo poin ke 3, yakni melanjutkan pembangunan infrastruktur. PP HIMMAH secara tegas meminta Presiden Prabowo Subianto melalui Danantara untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran manajemen Pelindo, yang dinilai gagal menunjukkan kepekaan sosial dan tanggung jawab moral di tengah situasi darurat. “Kegiatan internal untuk memotivasi pegawai sebenarnya hal yang baik, namun menjadi tidak tepat ketika dilakukan di tengah situasi penanganan pascabencana, saat seluruh elemen bangsa sedang mengedepankan gotong royong dan empati,” tegasnya. Selain itu, Razak juga menyoroti minimnya perhatian Pelindo terhadap kondisi lingkungan sekitar operasionalnya, khususnya akses jalan menuju Pelabuhan Belawan. Ia menilai kondisi jalan yang rusak parah dan berlubang mencerminkan lemahnya komitmen Pelindo pasca-merger dalam memastikan kelancaran infrastruktur penunjang pelabuhan. “Ironis, gedung kantornya megah, namun akses jalan menuju pelabuhan hancur lebur. Pelabuhan Belawan adalah pelabuhan terbesar ketiga di Indonesia, tetapi infrastrukturnya justru terabaikan,” tambahnya. PP HIMMAH menegaskan bahwa Pelindo sudah saatnya direformasi secara menyeluruh, dengan mengembalikan tujuan utama merger, memperhatikan potensi serta kearifan lokal, dan menerapkan prinsip keadilan bagi seluruh wilayah kerja Pelindo di Indonesia. “Reformasi Pelindo adalah keniscayaan agar BUMN ini kembali pada khitahnya sebagai pelayan kepentingan publik, bukan sekadar simbol kemegahan korporasi,” tutup Razak.
Sumber
:
Berita Terkait
PELNI dan Pelindo Buka Posko Bantuan Gempa NTT di Tanjung Priok, Angkutan Gratis 100%
Kejaksaan Tangkap DPO Korupsi Kredit Bank Sumut Rp 22 Miliar di Jakarta
Tiga Terdakwa Korupsi Tugboat Pelindo Belawan Divonis, Eks Dirut PT DPS Dipenjara 10 Tahun
Putusan Hakim Belum Siap, Tiga Terdakwa Korupsi Kapal Tunda Pelindo Gagal Divonis
Pelindo Regional 1 Cabang Belawan Perkuat Sinergi Layanan Penumpang melalui Sosialisasi Standar Pelayanan
JPU Tuntut Tiga Terdakwa Korupsi Tugboat Pelindo Belawan Hingga 15 Tahun Penjara, Kerugian Negara Capai Rp 92 Miliar