Jumat, 23 Oktober 2026

7 Juta Warga Indonesia Kena Hipertensi

Agus Supratman - Jumat, 23 Oktober 2026 16:18 WIB
7 Juta Warga Indonesia Kena Hipertensi
Sumber: Dokumentasi/MI
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 7 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Topikseru.com, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 7 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 755 ribu orang atau 11 persen yang mendapatkan pengobatan, jauh di bawah target pemerintah sebesar 80 persen.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) mengungkapkan temuan tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap sekitar 73 juta peserta CKG pada tahun lalu.

"Jadi tahun lalu diskrining 73 juta, yang ketemu hipertensi itu 7 juta. Hipertensi ini kemudian dikasih obat, yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755.000. Masih kecil," ucap Menkes dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Auditorium Leimena, Gedung Adhyatma, Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga:

Menurut BGS, jumlah pasien yang menjalani pengobatan seharusnya mencapai sekitar 5,6 juta orang apabila mengacu pada target penanganan pemerintah.

"Ini harusnya angkanya tuh 5,6 juta. Sekarang kita baru 755.000. Itu PR-nya kita," kata Menkes.

BGS menjelaskan, pasien yang terdeteksi mengalami tekanan darah tinggi sebenarnya dapat memperoleh obat secara gratis melalui puskesmas.

Pengobatan hipertensi juga perlu dilakukan secara rutin, disertai pemeriksaan tekanan darah setiap bulan untuk memantau perkembangan kondisi pasien.

"Padahal pengobatan ini sifatnya gratis, bisa dilakukan di Puskesmas. Nanti diharapkan sesudah berapa bulan kita kontrol, karena begitu dia diobati, tiap bulan harus diukur tuh tekanan darahnya," ujarnya.

Kemenkes kini tengah mengumpulkan data untuk mengetahui berapa banyak pasien yang tekanan darahnya berhasil dikendalikan setelah mendapatkan pengobatan.

BGS menekankan keberhasilan program CKG tidak cukup diukur dari jumlah masyarakat yang menjalani pemeriksaan maupun menerima obat, tetapi juga dari perbaikan kondisi kesehatan mereka.

"Targetnya kita bukan hanya skriningnya, bukan hanya dikasih obatnya, tapi memastikan bahwa semua masyarakat kita tuh sehat," tegasnya.

CKG Targetkan 13 Juta Peserta

Dalam kesempatan yang sama, BGS memaparkan perkembangan pelaksanaan program CKG sepanjang 2026.

Hingga Oktober, sebanyak 109 juta orang telah menjalani pemeriksaan kesehatan, sementara jumlah masyarakat yang mendaftar mencapai 116 juta orang.

Pemerintah menargetkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut dapat menjangkau 130 juta peserta hingga akhir tahun

Selain hipertensi, hasil pemeriksaan juga menemukan 1,1 juta orang dengan diabetes, 13 juta orang mengalami obesitas, serta 256 ribu orang mengalami dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah.

Menurut Menkes, program CKG diarahkan untuk mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada usia relatif muda.

Kemenkes memprioritaskan empat faktor risiko utama, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas.

Keempat kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit serius, termasuk stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.

BGS menilai penanganan sejak dini terhadap faktor-faktor risiko tersebut penting untuk mencegah komplikasi sekaligus menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular.

"Karena kalau kita bisa mengendalikan keempat faktor risiko tadi, terbukti secara riset bisa menurunkan kematian yang tinggi, terutama kematian di bidang cardiovascular disease," pungkasnya.

Risiko Hipertensi Mengintai

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat Indonesia akan bahaya kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi tersebut dinilai menjadi pintu masuk berbagai penyakit serius, mulai dari diabetes hingga hipertensi.

Peringatan itu disampaikan Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Gemuk itu masalah. Gemuk itu masalah," kata BGS dilansir dari Kompas. Ia menambahkan, "Dan gemuk itu nanti akan menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, dan diabetes nih."

Menurutnya, tingginya risiko penyakit tersebut tak lepas dari kebiasaan masyarakat yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis. Selain itu, banyak orang kerap mengabaikan kondisi tubuhnya dan jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

"Gula ini mother of all diseases, didiemin kita rasa sehat. Orang Indonesia suka gitu kan? Nggak diapa-apain kena ginjal, kena mata, kena stroke, jantung, segala macam penyakit keluar," lanjut BGS.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka diabetes di Indonesia tercatat sekitar 13 persen. Meski terlihat lebih rendah dibandingkan prevalensi tekanan darah tinggi, angka tersebut dinilai belum mencerminkan kondisi yang ideal.

"Karena survei kesehatan Indonesia tuh 13 persen, ini rendah sekali. Dia mungkin harusnya 50 sampai 60 persen dari tekanan darah tinggi ya. Tapi kita ketangkapnya waktu skriningnya kenapa rendah sekali," tutur Menkes.

Selain obesitas dan hipertensi, data yang dihimpun Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menunjukkan berbagai masalah kesehatan lain. Di antaranya kanker payudara, gangguan kesehatan gigi, hingga persoalan kesehatan mental yang dialami sekitar 10 persen warga Indonesia.

BGS menegaskan penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung, masih menjadi penyebab kematian utama di Tanah Air. Namun risiko tersebut dapat ditekan jika faktor pemicunya dikendalikan sejak dini.

"Kardiovaskular sebagai penyebab kematian utama, yaitu stroke sama jantung, kalau kita bisa kontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, itu penelitian menyebutkan bisa menurunkan prevalensi antara 30 sampai 50 persen," kata Budi.

Ia menambahkan, pengendalian faktor risiko tersebut tidak hanya menurunkan angka kematian, tetapi juga mencegah masyarakat harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Dalam rapat tersebut, Budi juga memaparkan program pengendalian hipertensi yang tengah dijalankan Kementerian Kesehatan di puskesmas. Dari sekitar 6 juta penderita hipertensi yang tercatat, jumlah pasien dengan tekanan darah terkendali masih tergolong rendah.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Dokter Luruskan Mitos Obat Hipertensi Rusak Ginjal, Ini Faktanya
Hipertensi Diam-Diam Mematikan: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Gustiwiw?