Topikseru.com - Aksi demonstrasi ribuan mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, memanas pada Rabu (28/10/2026) petang. Polisi diduga menembakkan gas air mata setelah terdengar laporan melalui komunikasi radio bahwa empat tameng milik aparat diambil massa.
Hingga pukul 18.00 WIB, ribuan demonstran masih bertahan di sekitar Bundaran HI. Sejumlah peserta aksi juga sempat menyalakan suar atau flare di dekat halte Transjakarta.
Berdasarkan laporan dari lokasi, aparat kepolisian tetap bersiaga ketika situasi mulai memanas. Tak lama setelah informasi mengenai hilangnya tameng terdengar melalui alat komunikasi handy talky (HT), suara ledakan terdengar di kawasan Plaza Mandiri yang diduga berasal dari tembakan gas air mata.
Baca Juga:
"Tameng diambil empat, Dan," demikian bunyi komunikasi radio yang terdengar di lokasi.
Meski dugaan hilangnya empat tameng disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan, belum ada konfirmasi independen mengenai siapa yang mengambil perlengkapan tersebut maupun kronologi lengkap kejadian.
Situasi setelah suara ledakan dilaporkan masih terkendali. Massa tidak terlihat melakukan perlawanan lanjutan terhadap aparat, sementara polisi tetap berjaga untuk mengawasi pergerakan demonstran.
Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi mengenai penangkapan peserta aksi yang berkaitan dengan dugaan pengambilan tameng tersebut.
Dalam demonstrasi itu, mahasiswa membentangkan spanduk berisi kritik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama dua tahun pemerintahan.
Aksi tersebut menjadi ruang bagi para demonstran untuk menyuarakan berbagai persoalan yang mereka nilai membutuhkan perhatian pemerintah. Salah satu isu yang mengemuka adalah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan.
Di tengah penyampaian tuntutan, aparat kepolisian tetap bersiaga. Perkembangan situasi kemudian menjadi perhatian setelah terdengar informasi mengenai dugaan hilangnya empat tameng dan munculnya suara ledakan yang diduga berkaitan dengan penggunaan gas air mata.
Namun, hubungan antara laporan kehilangan tameng dan keputusan penggunaan gas air mata masih perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi kepolisian.
Zaskia mengaku sedih dan frustrasi karena bantuan yang dibawanya belum mampu menjawab seluruh kebutuhan di lapangan. Menurut dia, penanganan karhutla membutuhkan dukungan lebih besar dari pemerintah dan instansi terkait, termasuk ketersediaan peralatan pemadaman yang memadai.
"Kebakaran itu siklusnya perlima tahun sekali, seharusnya kan ini bisa dicegah," ujar Zaskia.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada upaya pemadaman ketika api telah meluas, tetapi juga membutuhkan pencegahan, pemantauan wilayah rawan, serta kesiapan personel dan perlengkapan.
Pengalaman relawan di lapangan juga memperlihatkan pentingnya koordinasi antara masyarakat, relawan, pemerintah daerah, dan instansi yang memiliki kewenangan menangani kebakaran.
Meski demikian, kebutuhan spesifik di setiap wilayah dapat berbeda, sehingga langkah penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tingkat kebakaran.
Namun, informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan urutan kejadian secara menyeluruh, termasuk siapa yang mengambil tameng, apakah terdapat peringatan sebelum gas air mata digunakan, dan apa pertimbangan aparat dalam mengambil tindakan tersebut.
Kejelasan kronologi menjadi penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai situasi di lapangan. Keterangan resmi kepolisian, dokumentasi kejadian, serta kesaksian dari berbagai pihak dapat membantu memastikan fakta yang terjadi.
Di sisi lain, pengendalian massa dalam demonstrasi perlu memperhatikan keselamatan peserta aksi, petugas, dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Setiap tindakan aparat juga perlu dijelaskan berdasarkan prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Hingga laporan ini disusun, situasi di Bundaran HI dilaporkan masih terkendali, dengan aparat tetap berjaga dan mahasiswa masih berada di sekitar kawasan tersebut.
Isu karhutla di Kalimantan menjadi salah satu sorotan demonstrasi, terutama terkait kebutuhan pencegahan dan dukungan peralatan pemadaman. Kehadiran Zaskia Adya Mecca turut membawa perhatian pada pengalaman relawan yang terlibat langsung membantu penanganan kebakaran.
Sementara itu, dugaan penggunaan gas air mata setelah laporan kehilangan tameng masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tanpa konfirmasi mengenai kronologi dan dasar tindakan aparat, penyebab pasti meningkatnya ketegangan belum dapat disimpulkan.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada situasi di lapangan, keterangan resmi kepolisian, serta tindak lanjut terhadap tuntutan yang disampaikan demonstran.