Topikseru.com -Sejumlah figur publik Tanah Air ramai membicarakan dugaan shadow ban di media sosial setelah menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Beauty influencer Tasya Farasya hingga komedian Wendi Cagur mengeluhkan jangkauan konten mereka yang dinilai menurun setelah membagikan informasi terkait karhutla.
Dugaan ini menjadi sorotan karena media sosial selama ini menjadi salah satu sarana bagi figur publik untuk menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat peduli terhadap persoalan lingkungan.
Namun, hingga kini belum ada bukti yang memastikan bahwa penurunan jangkauan konten mereka terjadi akibat pembatasan yang disengaja oleh platform media sosial.
Baca Juga:
Tasya Farasya Kaget Penonton Instagram Story Turun Drastis
Tasya Farasya menjadi salah satu figur publik yang mengungkapkan kecurigaannya melalui media sosial.
Influencer kecantikan tersebut membandingkan jumlah penonton Instagram Story miliknya sebelum dan sesudah membagikan konten mengenai karhutla.
Tasya menyebut jumlah penonton Instagram Story miliknya yang biasanya mencapai lebih dari satu juta kali turun menjadi sekitar 85 ribu setelah ia mengunggah informasi mengenai persoalan tersebut.
Perbedaan jumlah penonton itu membuat Tasya mempertanyakan kemungkinan adanya pembatasan jangkauan konten.
Ia juga menyampaikan sindiran melalui akun Threads miliknya dengan menyinggung dugaan shadow ban terhadap pengguna yang bersuara mengenai isu tertentu.
Di tengah persoalan tersebut, Tasya turut mengabarkan rencana menyiapkan posko berupa ruang aman dari asap bagi masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan Tengah.
Wendi Cagur Ikut Pertanyakan Jangkauan Konten
Komedian Wendi Cagur juga mengungkapkan keresahannya setelah aktif membagikan informasi mengenai karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Wendi mengaku merasa jangkauan unggahan ulang informasi karhutla melalui Instagram Story semakin terbatas. Ia pun mempertanyakan kondisi tersebut setelah menyadari adanya perubahan pada akses audiens terhadap kontennya.
Melalui unggahannya, Wendi mengajak masyarakat untuk tetap menyuarakan kepedulian terhadap karhutla hingga persoalan tersebut mendapatkan penanganan.
Meski demikian, pengalaman yang disampaikan Wendi belum menjadi bukti bahwa akun Instagram miliknya secara resmi terkena shadow ban.
Andien dan Figur Publik Lain Ikut Mengeluh
Selain Tasya Farasya dan Wendi Cagur, penyanyi Andien juga menyampaikan dugaan serupa.
Andien mengaku jumlah penonton Instagram Story miliknya menurun setelah berulang kali membagikan informasi mengenai karhutla. Penurunan itu juga dirasakannya ketika hendak mempromosikan video musik terbarunya.
Keluhan mengenai jangkauan konten turut menjadi pembicaraan sejumlah figur publik lain. Meski pengalaman mereka berbeda-beda, dugaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana platform media sosial mendistribusikan konten yang diunggah penggunanya.
Apa Itu Shadow Ban?
Shadow ban merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan dugaan pembatasan visibilitas konten atau akun di media sosial tanpa pemberitahuan yang jelas kepada pemilik akun.
Dalam kondisi tersebut, pengguna masih dapat mengunggah konten. Namun, jangkauannya diduga berkurang sehingga unggahan lebih sulit ditemukan atau tidak menjangkau sebanyak biasanya.
Meski begitu, penurunan jumlah penonton tidak otomatis membuktikan adanya shadow ban. Jumlah penayangan juga dapat dipengaruhi perubahan algoritma, aktivitas audiens, waktu unggah, hingga jenis konten yang dibagikan.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti penurunan jangkauan yang dikeluhkan para figur publik tersebut.
Komdigi Bantah Minta Konten Karhutla Dibatasi
Di tengah ramainya dugaan shadow ban, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membantah pernah menginstruksikan atau meminta platform media sosial membatasi maupun menurunkan konten yang membahas karhutla.
Direktur Pengendalian Ruang Digital Komdigi, Safriansyah Yanwar Rosyadi, menyatakan bahwa platform memiliki pedoman komunitas dan mekanisme moderasi masing-masing.
Menurut Komdigi, dugaan penurunan jangkauan atau penghapusan konten perlu ditelusuri berdasarkan fakta dan dikonfirmasi kepada platform terkait.
Dengan demikian, dugaan shadow ban yang disampaikan sejumlah figur publik masih perlu dibuktikan. Belum ada kepastian bahwa konten mereka dibatasi karena menyuarakan karhutla, sementara persoalan kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi isu yang membutuhkan perhatian masyarakat.