Sabtu, 31 Oktober 2026

UMKM Indonesia Mulai Menembus Pasar Dunia, Produk Lokal Apa yang Berpeluang Diekspor?

Rizky Aisyah - Sabtu, 31 Oktober 2026 20:22 WIB
UMKM Indonesia Mulai Menembus Pasar Dunia, Produk Lokal Apa yang Berpeluang Diekspor?
Foto: BRI
Produk UMKM Indonesia memiliki peluang menembus pasar ekspor, mulai dari kopi dan makanan olahan hingga kerajinan tangan. Kualitas produk, inovasi, dan kesiapan memenuhi standar internasional menjadi kunci untuk bersaing di pasar global.

Topikseru.com - Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia semakin mendapat peluang untuk memasuki pasar internasional. Dukungan pemerintah, perluasan perdagangan digital, dan penjajakan bisnis dengan pembeli dari luar negeri membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau konsumen global.

Kementerian Perdagangan mencatat program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor memfasilitasi 797 penjajakan bisnis dengan potensi transaksi mencapai 361,55 juta dolar AS atau sekitar Rp6 triliun pada Januari–September 2026.

Angka tersebut merupakan potensi transaksi dari penjajakan bisnis, bukan seluruhnya nilai ekspor yang sudah terealisasi. Meski demikian, capaian itu memperlihatkan besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memperluas pasar.

Baca Juga:

Dalam laporan yang dipublikasikan pada 30 Oktober 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyebut potensi transaksi UMKM dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 mencapai 510,79 juta dolar AS, meningkat dibandingkan 474,7 juta dolar AS pada tahun sebelumnya.

Pemerintah terus memperluas akses pasar melalui program Dari Lokal untuk Global, termasuk pendampingan usaha dan pertemuan dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Lantas, produk lokal apa saja yang berpeluang menembus pasar ekspor?

1. Produk Olahan Kelapa yang Memiliki Banyak Kegunaan

Kelapa tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman. Berbagai bagian tanaman ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Beberapa produk yang berpeluang dipasarkan ke luar negeri antara lain cocopeat atau media tanam dari serat kelapa, arang kelapa, briket, serta produk olahan kelapa lainnya.

Kementerian UMKM pada September 2026 menyebut cocopeat sebagai salah satu produk dalam kerja sama UMKM yang telah menandatangani kontrak dengan eksportir untuk menjangkau pasar internasional.

Peluang tersebut tidak berarti setiap produsen otomatis memperoleh pembeli. Pelaku usaha tetap perlu memastikan kualitas produk konsisten, kapasitas produksi memadai, serta spesifikasi barang sesuai kebutuhan negara tujuan.

Untuk produk berbahan kelapa, kadar air, ukuran, kebersihan, dan ketahanan selama pengiriman dapat menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

2. Kopi Lokal yang Mengandalkan Cita Rasa dan Asal Daerah

Kopi menjadi salah satu produk yang dapat dikembangkan melalui kekuatan karakter daerah. Indonesia memiliki beragam kopi yang dikenal berdasarkan wilayah asal, kondisi tumbuh, varietas, dan proses pengolahannya.

Kopi dalam bentuk biji mentah, biji sangrai, maupun produk kopi olahan dapat menyasar segmen pembeli yang berbeda.

Kementerian Perdagangan memasukkan kopi dalam daftar produk yang diminati pembeli mancanegara pada kegiatan penjajakan bisnis UMKM sepanjang 2026.

Bagi pelaku usaha kecil, peluang tidak hanya terletak pada penjualan dalam jumlah besar. Kopi dengan identitas asal yang jelas, kualitas terjaga, dan pengemasan yang sesuai juga dapat dikembangkan untuk menyasar pasar khusus.

Namun, produsen harus memahami kebutuhan pembeli, termasuk karakter rasa yang diinginkan, tingkat sangrai, bentuk kemasan, dan ketentuan keamanan pangan yang berlaku di negara tujuan.

3. Makanan Olahan dan Produk Perikanan

Makanan olahan merupakan kategori lain yang dapat dipertimbangkan oleh UMKM. Produk seperti makanan ringan, bumbu, rempah-rempah, serta hasil olahan perikanan memiliki karakter pasar dan persyaratan yang berbeda-beda.

Kementerian Perdagangan mencatat makanan dan minuman olahan serta produk perikanan sebagai bagian dari kategori yang diminati dalam kegiatan penjajakan bisnis dengan pembeli internasional.

Pada September 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan untuk memperluas akses pasar global bagi produk perikanan UMKM dan desa melalui platform InaExport.

Produk perikanan yang telah memenuhi persyaratan mutu dapat dipromosikan melalui platform tersebut. Langkah ini memperlihatkan pentingnya sertifikasi dan keterlacakan produk dalam membangun kepercayaan pembeli.

Bagi pengusaha makanan, tantangannya tidak berhenti pada rasa. Ketahanan produk, keamanan pangan, komposisi, label, masa simpan, dan ketentuan impor negara tujuan juga perlu diperhatikan.

Produk yang laris di pasar domestik belum tentu dapat langsung dipasarkan ke luar negeri tanpa penyesuaian.

4. Kerajinan Tangan, Anyaman, dan Dekorasi Rumah

Kerajinan berbahan rotan, bambu, kayu, dan material lainnya juga berpeluang menjangkau pembeli internasional.

Kementerian Perindustrian melaporkan nilai ekspor industri kerajinan Indonesia mencapai 223,1 juta dolar AS pada triwulan II 2026, meningkat 28,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Komoditasnya mencakup anyaman rotan dan bambu, ukiran kayu bukan mebel, peralatan dapur berbahan kayu, produk keramik, serta berbagai barang kerajinan lainnya.

Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar produk industri kerajinan Indonesia berdasarkan data Januari–Juni 2026 yang dikutip Kementerian Perindustrian. Pasar lain mencakup Taiwan, Tiongkok, Jepang, dan Belanda.

Data tersebut menunjukkan adanya pasar bagi produk kerajinan Indonesia. Akan tetapi, pelaku UMKM perlu menentukan segmen yang ingin dituju dan menyesuaikan desain, ukuran, bahan, serta kualitas pengerjaan dengan kebutuhan pembeli.

Kerajinan yang mempunyai ciri khas daerah dapat menjadi pembeda, terutama jika didukung desain yang fungsional dan kualitas produksi yang konsisten.

5. Furnitur dan Produk Interior

Furnitur serta produk dekorasi rumah juga termasuk kategori yang diminati dalam penjajakan bisnis ekspor yang difasilitasi Kementerian Perdagangan.

Produk yang dapat dikembangkan antara lain meja, kursi, rak, aksesori interior, dan berbagai perlengkapan rumah berbahan kayu atau material lainnya.

Peluang ini dapat dimanfaatkan pengrajin yang mampu menghasilkan produk dengan ukuran konsisten, hasil pengerjaan rapi, dan desain sesuai kebutuhan pasar.

Namun, pengiriman furnitur memiliki tantangan tersendiri, mulai dari volume barang, biaya logistik, keamanan pengemasan, hingga persyaratan bahan yang berlaku di negara tujuan.

Karena itu, produsen perlu menghitung biaya produksi dan pengiriman secara menyeluruh sebelum menetapkan harga untuk calon pembeli luar negeri.

6. Produk Herbal, Perawatan Tubuh, dan Kosmetik

Produk herbal dan perawatan tubuh juga tercatat dalam kategori yang diminati pembeli internasional pada program penjajakan bisnis UMKM yang difasilitasi pemerintah.

Peluang dapat mencakup produk berbahan tumbuhan, perawatan tubuh, serta kosmetik yang dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.

Namun, kategori ini memerlukan perhatian khusus karena persyaratan produk dapat berbeda berdasarkan komposisi, klaim manfaat, klasifikasi, dan negara tujuan.

Pelaku usaha tidak boleh mengandalkan klaim khasiat tanpa bukti yang memadai. Produk juga harus memenuhi ketentuan keamanan, pelabelan, dan registrasi yang berlaku.

Bagi UMKM yang baru memulai, mempelajari persyaratan regulasi sebelum berinvestasi dalam produksi skala besar merupakan langkah penting.

Bagaimana UMKM Memulai Ekspor?

Memiliki produk yang menarik belum cukup untuk memastikan barang dapat menembus pasar internasional. Pelaku usaha perlu mempersiapkan sejumlah hal sebelum mencari pembeli.

Pertama, tentukan negara tujuan. Pelajari kebutuhan konsumen, persaingan, tarif, dan ketentuan impor di negara yang ingin dituju.

Kedua, pastikan kapasitas produksi. Pembeli perlu mengetahui jumlah barang yang dapat dipasok, konsistensi kualitas, waktu produksi, dan kemampuan memenuhi pesanan berulang.

Ketiga, hitung harga ekspor. Perhitungan perlu mencakup biaya bahan baku, tenaga kerja, kemasan, pengujian atau sertifikasi, pengiriman, serta biaya lain yang relevan.

Keempat, siapkan dokumen dan standar produk. Persyaratannya berbeda menurut kategori barang dan negara tujuan. Produk pangan, perikanan, kosmetik, dan kerajinan tidak selalu mengikuti ketentuan yang sama.

Kelima, manfaatkan fasilitas resmi. Pelaku usaha dapat mempelajari peluang pasar melalui InaExport, platform yang dikembangkan Kementerian Perdagangan untuk mempertemukan eksportir dengan calon pembeli dan menyediakan informasi mengenai tarif, persyaratan, serta akses pasar.

InaExport juga menyediakan layanan asesmen kesiapan ekspor melalui fitur Cek Ekspor. Informasi tersebut dapat membantu pelaku usaha mengetahui aspek yang masih perlu diperbaiki sebelum memasuki pasar global.

Peluang Besar, tetapi Kesiapan Usaha Tetap Menentukan

Perkembangan program ekspor menunjukkan bahwa peluang bagi UMKM Indonesia tidak hanya terbatas pada komoditas besar. Produk olahan kelapa, kopi, makanan, perikanan, kerajinan, furnitur, hingga produk perawatan tubuh memiliki potensi untuk dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.

Meski demikian, potensi transaksi bukan jaminan penjualan akan terjadi. Pelaku usaha tetap harus membangun hubungan dengan pembeli, menjaga kualitas, memenuhi regulasi, dan memastikan perhitungan bisnisnya masuk akal.

Bagi UMKM yang ingin berkembang, langkah awal yang paling penting bukan sekadar mencari negara dengan pasar besar, melainkan menemukan produk yang benar-benar dibutuhkan pembeli dan memastikan usaha mampu memasoknya secara berkelanjutan.

Dengan persiapan yang tepat, produk lokal tidak hanya berpeluang dikenal di pasar internasional, tetapi juga dapat membangun usaha yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Raffi Ahmad Dihantam Cancel Culture, RANS Carnival Jogja Terancam Sepi Usai Musisi dan UMKM Mundur
Ekspor Sumut Tembus Rp 258,96 Miliar, Kopi hingga Sarang Walet Jadi Andalan
Pasar Terasi Asahan Makin Luas, Ekspor 2026 Capai Rp34 Miliar
Ekspor Sumut Tembus Rp8,1 Triliun, Sarang Burung Walet Jadi Komoditas Andalan
Omzet Galeri UMKM Medan Tembus Rp 608 Juta, Baru 3 Bulan Beroperasi
Singapura Bilang Ekspor Gas dari RI Dipangkas Hanya 2% Kebutuhan