Topikseru.com - Persija Jakarta menghadapi sorotan setelah kericuhan suporter dalam pertandingan melawan Persita Tangerang memunculkan wacana pengurangan poin. Namun, pelatih kepala Persija, Shin Tae-yong, menilai hukuman tersebut tidak semestinya dijatuhkan begitu saja hanya karena persoalan suporter.
Shin mempertanyakan dasar penerapan sanksi pengurangan poin dalam kasus kericuhan suporter. Menurut pelatih asal Korea Selatan itu, sanksi tersebut dalam pemahamannya lebih berkaitan dengan pelanggaran serius seperti manipulasi pertandingan atau pengaturan skor.
"Sepengetahuan saya, dalam aturan tidak ada sanksi pengurangan poin hanya karena masalah suporter," kata Shin dalam konferensi pers, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga:
Pernyataan itu muncul setelah laga Persita Tangerang kontra Persija Jakarta di Stadion Internasional Banten pada Sabtu lalu diwarnai kericuhan.
Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Persita 3-2 tersebut bahkan sempat mengalami penundaan sekitar 30 menit saat memasuki babak kedua.
Di tengah munculnya tuntutan agar klub mendapat hukuman berat, Shin meminta persoalan tersebut ditangani secara menyeluruh. Baginya, penegakan disiplin tetap diperlukan, tetapi jenis sanksi harus sesuai dengan pelanggaran yang terbukti.
Kick-off babak kedua tertunda sekitar setengah jam ketika situasi keamanan menjadi perhatian. Insiden itu kemudian kembali memunculkan perdebatan mengenai tanggung jawab klub atas perilaku suporter serta bentuk sanksi yang pantas diberikan.
Wacana pengurangan poin menjadi isu sensitif karena dampaknya dapat melampaui satu pertandingan. Jika diterapkan, hukuman tersebut berpotensi memengaruhi posisi klub dalam klasemen dan perjuangan mereka sepanjang kompetisi.
Namun, Shin menilai keputusan mengenai sanksi tidak seharusnya diambil hanya berdasarkan tekanan setelah insiden.
Otoritas terkait perlu memeriksa kejadian, menentukan pihak yang bertanggung jawab, dan merujuk pada regulasi kompetisi yang berlaku.
Dengan begitu, penanganan kericuhan tidak berhenti pada penjatuhan hukuman, tetapi juga diarahkan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sebelum kericuhan dalam laga Persita kontra Persija, muncul laporan mengenai penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah. Insiden lain juga dilaporkan terjadi terhadap suporter Persija atau Jakmania di Tol Palikanci, Cirebon, Jawa Barat.
Rangkaian kejadian tersebut memperbesar perhatian terhadap aspek keamanan, baik bagi pemain, ofisial, maupun suporter yang melakukan perjalanan untuk mendukung tim.
Shin meminta pihak kepolisian dan otoritas berwenang menangani persoalan kekerasan secara tegas.
"Hal tersebut semestinya ditangani dan ditindak secara tegas oleh pihak kepolisian atau pihak yang berwajib," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan keamanan tidak cukup diselesaikan hanya dengan menghukum klub melalui mekanisme kompetisi. Dugaan tindak pidana juga perlu ditangani melalui proses hukum oleh pihak yang memiliki kewenangan.
Meski demikian, penentuan tanggung jawab klub dan individu harus tetap mengacu pada bukti serta aturan yang berlaku. Penanganan pidana dan sanksi olahraga merupakan dua proses yang dapat memiliki dasar serta mekanisme berbeda.
Menurut Shin, perilaku suporter yang memicu kericuhan justru bisa merugikan tim yang mereka cintai. Salah satu konsekuensi yang mungkin diterapkan dalam kondisi tertentu adalah pertandingan tanpa kehadiran penonton.
Situasi tersebut akan membuat suporter kehilangan kesempatan mendukung Persija secara langsung di stadion.
"Jika membuat masalah, dampaknya bisa berupa laga tanpa penonton sehingga kalian tidak bisa menikmati pertandingan secara langsung," kata Shin.
Peringatan itu menjadi pengingat bahwa dukungan suporter memiliki peran penting dalam sepak bola, tetapi harus tetap berada dalam batas keamanan dan sportivitas.
Atmosfer stadion yang meriah dapat menjadi energi tambahan bagi pemain. Sebaliknya, kekerasan dan gangguan keamanan dapat mengalihkan perhatian dari pertandingan, merusak pengalaman penonton, serta membuka kemungkinan sanksi bagi pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab.
Bagi Persija, persoalan ini juga menjadi tantangan untuk menjaga hubungan dengan basis pendukungnya sekaligus memastikan pertandingan berlangsung aman.
Karena itu, belum tepat menyimpulkan Persija pasti kehilangan poin ataupun memastikan hukuman tersebut tidak mungkin diterapkan sebelum ada keputusan resmi dari otoritas yang berwenang.
Hal penting lainnya adalah membedakan tanggung jawab klub atas pelanggaran disiplin pertandingan dengan pertanggungjawaban individu yang diduga melakukan kekerasan. Keduanya harus dinilai berdasarkan ketentuan yang relevan dan fakta yang terungkap.
Di sisi lain, klub, penyelenggara pertandingan, aparat keamanan, dan suporter memiliki peran masing-masing dalam mencegah kericuhan. Upaya pencegahan, pengawasan, dan penindakan yang konsisten dibutuhkan agar pertandingan tidak kembali terganggu oleh insiden serupa.
Bagi Persija Jakarta, fokus berikutnya bukan hanya menghadapi polemik sanksi, tetapi juga menjaga kesiapan tim di tengah perhatian publik.
Sementara itu, pesan Shin kepada suporter jelas: dukungan seharusnya membantu tim, bukan menambah masalah yang berpotensi merugikan klub sendiri.