Topikseru.com,
Medan - Warga Medan, Binjai, dan Deli Serdang mendapat alternatif baru untuk bepergian menggunakan transportasi publik. Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang resmi memasuki tahap uji coba dan masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut secara gratis hingga Desember 2026.
Peluncuran BRT Mebidang dilakukan di Terminal Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (19/8/2026). Program ini dirancang bukan sekadar menghadirkan armada bus baru, tetapi menjadi bagian dari pembangunan sistem transportasi publik yang terintegrasi di kawasan Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang).
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan integrasi menjadi target utama pengembangan BRT Mebidang. Nantinya, masyarakat diharapkan bisa berpindah koridor tanpa harus menggunakan sistem pembayaran yang berbeda.
"Ke depan, tujuannya pasti terintegrasi sehingga kalau kita mau ke Binjai, mau ke Deli Serdang, mau ke mana pun, bayarnya sekali saja," ujar Bobby.
Baru Dua Bus Listrik yang Beroperasi
Pada tahap awal uji coba, BRT Mebidang baru mengoperasikan dua unit bus listrik. Masa percobaan tersebut digunakan untuk menguji kesiapan operasional, menghitung waktu tempuh, sekaligus memperkenalkan layanan transportasi baru kepada masyarakat.
Pemerintah menargetkan BRT Mebidang dapat beroperasi penuh mulai 8 Desember 2026 dengan dukungan 30 bus listrik.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 bus akan ditempatkan di Koridor 11 rute Teladan-Lubuk Pakam. Kemudian 14 bus melayani Koridor 12 rute Simpang Barat-Binjai, sedangkan tiga unit lainnya disiapkan sebagai armada cadangan.
Selain armada, pemerintah juga menyiapkan 121 titik pemberhentian BRT Mebidang.
Rinciannya, 68 titik berada di jalur Teladan-Terminal Lubuk Pakam dan 53 titik lainnya berada di lintasan Simpang Barat-Binjai.
Kehadiran ratusan titik pemberhentian tersebut diharapkan membuat akses masyarakat terhadap transportasi publik menjadi lebih mudah, terutama bagi warga yang selama ini mengandalkan kendaraan pribadi maupun angkutan umum konvensional.
Gratis Saat Uji Coba, Tarif Mulai Rp 3.000 Setelah Beroperasi Penuh
Salah satu daya tarik utama BRT Mebidang selama masa uji coba adalah layanan gratis hingga Desember 2026.
Setelah memasuki operasional penuh, pemerintah menetapkan tarif sebesar Rp 4.300 untuk penumpang umum.
Sementara itu, tarif khusus sebesar Rp 3.000 diberlakukan bagi pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi Transumut untuk mendapatkan informasi perjalanan. Aplikasi tersebut dapat digunakan untuk melihat rute, memantau posisi bus secara real time, hingga mendaftarkan tarif khusus.
Dengan sistem tersebut, pemerintah ingin membangun pola perjalanan yang lebih mudah dipantau sekaligus memberikan kepastian kepada pengguna transportasi publik.
Bukan Sekadar Tambah Bus
Bobby menegaskan pembangunan transportasi publik Mebidang tidak boleh berhenti pada penyediaan armada.
Menurut dia, keberadaan BRT harus menjadi bagian dari sistem transportasi yang saling terhubung antara Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Deli Serdang.
Artinya, pengembangan BRT Mebidang diarahkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat lintas wilayah, bukan hanya melayani perjalanan dalam satu kota.
Konsep integrasi tersebut nantinya juga menyangkut sistem pembayaran, konektivitas antarkoridor hingga kemudahan masyarakat berpindah moda.
Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Muiz Thohir mengapresiasi kolaborasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menghadirkan transportasi publik modern di Sumatera Utara.
Pengelolaan BRT Mebidang ke depan juga diarahkan menggunakan skema BUMD bersama. Skema tersebut akan melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Pemerintah Kota Medan, dan Pemerintah Kota Binjai.
Model pengelolaan bersama ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan layanan setelah masa uji coba berakhir.
Dengan target 30 bus listrik, 121 titik pemberhentian dan integrasi tiga wilayah utama, BRT Mebidang diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung transportasi publik di kawasan metropolitan Sumatera Utara.
Tantangan berikutnya adalah memastikan layanan tersebut benar-benar tepat waktu, mudah diakses, nyaman, serta mampu membuat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Berita Terkait