Topikseru.com -Produksi jagung Indonesia meningkat pada Agustus 2026. Namun, kenaikan produksi tersebut belum otomatis membuat harga pakan ternak lebih murah. Data terbaru justru menunjukkan harga sejumlah jenis pakan unggas masih mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 1,74 juta ton pada Agustus 2026. Jumlah ini naik 24,81 persen dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat sebanyak 1,39 juta ton.
Kenaikan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luas panen jagung. Pada Agustus 2026, luas panen mencapai 0,29 juta hektare atau meningkat 23,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Angka ini menunjukkan pasokan jagung nasional mengalami peningkatan. Jagung sendiri merupakan salah satu bahan baku penting dalam pembuatan pakan unggas, termasuk pakan ayam pedaging dan ayam petelur.
Harga Pakan Unggas Justru Masih Naik
Meski produksi jagung meningkat, perkembangan harga pakan ternak belum menunjukkan penurunan secara tahunan.
Berdasarkan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) milik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, harga pakan broiler pada September 2026 tercatat rata-rata Rp 8.688 per kilogram. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp 8.108 per kilogram.
Harga pakan ayam petelur atau layer juga naik dari Rp 7.216 menjadi Rp 7.373 per kilogram. Sementara itu, harga konsentrat layer meningkat dari Rp 7.718 menjadi Rp 8.344 per kilogram.
Data tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produksi jagung belum cukup untuk memastikan harga pakan di tingkat produsen ikut turun.
Namun, perbandingan ini perlu dibaca secara hati-hati. Data produksi jagung yang digunakan merupakan perbandingan Agustus, sedangkan harga pakan dibandingkan pada September. Angka tersebut menunjukkan kondisi yang terjadi pada periode berbeda, bukan bukti bahwa kenaikan produksi jagung menyebabkan harga pakan naik.
Mengapa Produksi Jagung Naik Belum Tentu Menurunkan Harga Pakan?
Ada beberapa faktor yang menentukan apakah peningkatan produksi jagung dapat menekan harga pakan ternak.
Pertama, distribusi dan ketersediaan jagung di wilayah peternakan. Produksi yang meningkat secara nasional belum tentu langsung membuat bahan baku tersedia dalam jumlah cukup di setiap daerah. Biaya pengangkutan, penyimpanan, dan kelancaran distribusi turut memengaruhi harga yang diterima pembeli.
Kedua, harga bahan baku lainnya. Industri pakan tidak hanya menggunakan jagung. Bahan lain, termasuk bungkil kedelai atau soybean meal, juga memengaruhi biaya produksi. Karena itu, penurunan harga jagung saja belum tentu cukup untuk menurunkan harga akhir pakan.
Ketiga, kualitas bahan baku dan biaya pengolahan. Kadar air, mutu jagung, biaya produksi pabrik, serta kebutuhan penyimpanan dapat memengaruhi harga bahan baku yang digunakan industri.
Dengan demikian, peningkatan produksi merupakan salah satu faktor pendukung stabilitas harga, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Pemerintah Perkuat Pasokan Jagung untuk Peternak
Pemerintah juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan untuk membantu peternak unggas skala mikro, kecil, dan menengah.
Badan Pangan Nasional pada September 2026 mengumumkan tambahan alokasi 150 ribu ton jagung pakan yang diproses untuk memperkuat program tersebut. Pada tahap pertama 2026, kuota penyaluran telah ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton.
Dalam program itu, harga jagung ditetapkan sebesar Rp 5.000 per kilogram untuk pengambilan di gudang Bulog dan maksimal Rp 5.500 per kilogram di tingkat peternak, sesuai ketentuan program. Penyaluran ditujukan kepada peternak yang memenuhi persyaratan melalui koperasi atau asosiasi yang terdaftar.
Program ini menjadi salah satu upaya untuk membantu peternak memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau. Meski demikian, harga jagung dalam program SPHP tidak dapat langsung disamakan dengan harga seluruh jenis pakan pabrikan.
Apakah Harga Pakan Bisa Turun?
Peningkatan produksi jagung sebesar 24,81 persen menjadi sinyal positif bagi ketersediaan bahan baku pakan. Akan tetapi, data harga pakan September 2026 menunjukkan bahwa harga beberapa jenis pakan unggas masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Agar peningkatan produksi berdampak pada harga pakan, pasokan perlu tersedia secara merata, distribusi berjalan lancar, dan biaya bahan baku lain tetap terkendali.
Karena itu, harga pakan belum dapat dipastikan akan turun hanya berdasarkan kenaikan produksi jagung. Perkembangan harga pada bulan-bulan berikutnya perlu dipantau untuk melihat apakah tambahan pasokan benar-benar diikuti penurunan biaya yang diterima peternak.