Topikseru.com -Ancaman cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian di Sumatera Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada 27–30 Oktober 2026.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa potensi cuaca tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer, termasuk sirkulasi siklonik di utara Aceh serta aktifnya gelombang atmosfer.
Baca Juga:
Kombinasi kondisi tersebut mendukung pertumbuhan awan hujan yang berpotensi memicu hujan berdurasi panjang, terutama pada siang hingga malam hari.
Sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Medan, Binjai, Deli Serdang, Langkat, kawasan pantai barat Sumatera Utara, serta sejumlah daerah pegunungan.
Medan Siagakan 23 Perahu Karet
Menghadapi risiko banjir, Pemerintah Kota Medan menyiapkan sarana evakuasi dan memperkuat koordinasi lintas instansi.
Berdasarkan keterangan resmi Pemko Medan pada 28 Oktober 2026, sebanyak 23 perahu karet disiagakan untuk membantu proses evakuasi warga apabila banjir terjadi. Pemerintah kota juga menggandeng komunitas offroad untuk mendukung mobilisasi dan menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan biasa.
Selain menyiapkan peralatan, Pemko Medan menggalakkan pembersihan di sejumlah kawasan rawan genangan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko air menggenang akibat saluran drainase yang tersumbat.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas juga menggelar rapat koordinasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan instansi terkait guna memperkuat kesiapan menghadapi bencana.
Upaya tersebut dilakukan setelah banjir pada 27 November 2025 berdampak pada 19 dari 21 kecamatan di Medan. Dalam rapat kesiapsiagaan terbaru, Pemko Medan menekankan pentingnya koordinasi cepat agar penanganan tidak terlambat ketika kondisi darurat terjadi.
Hujan di Hulu Juga Bisa Memicu Banjir
Risiko banjir di Medan tidak hanya bergantung pada hujan yang turun di dalam kota. Hujan deras di wilayah hulu sungai juga dapat meningkatkan debit air dan memicu kenaikan permukaan sungai di kawasan perkotaan.
Rico Waas mencontohkan kenaikan debit air sungai sekitar 50–60 sentimeter dalam kejadian beberapa hari sebelumnya, meskipun Medan tidak mengalami hujan lebat saat itu. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan aliran sungai dan koordinasi dengan wilayah hulu.
Karena itu, pemerintah kota menginstruksikan pemetaan jalur evakuasi dan titik kumpul aman. Kesiapan logistik, peralatan evakuasi, serta komunikasi darurat juga menjadi bagian dari langkah antisipasi.
Pemko Medan turut merencanakan simulasi penanganan banjir untuk menguji kesiapan petugas dan mengevaluasi kemungkinan kendala sebelum bencana terjadi.
Warga Diminta Siapkan Tas Siaga Bencana
Di tengah potensi cuaca ekstrem, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir diminta tidak hanya mengandalkan bantuan petugas.
Warga perlu memantau informasi resmi BMKG dan mengikuti arahan BPBD. Saluran air di sekitar rumah juga sebaiknya dijaga agar tidak tersumbat sampah.
Keluarga disarankan menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian ganti, air minum, dan kebutuhan dasar. Keluarga yang memiliki bayi perlu menambahkan perlengkapan seperti susu, popok, dan pakaian bayi.
Jika air mulai naik dengan cepat, warga sebaiknya segera menuju tempat yang lebih aman tanpa menunggu kondisi semakin parah. Hindari melintasi arus banjir dan jangan berteduh di bawah pohon saat terjadi angin kencang atau petir.
BPBD Kota Medan menyediakan layanan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) melalui nomor 0813-7080-0880 untuk laporan kejadian bencana dan kebutuhan bantuan darurat.
Peringatan cuaca ekstrem bukan berarti banjir pasti terjadi di semua wilayah. Namun, kesiapan pemerintah dan masyarakat menjadi penting untuk mengurangi risiko korban serta kerugian apabila hujan deras memicu bencana.