Kamis, 24 September 2026

Kisah Pilu Sempurna, Orang Utan Kalimantan yang Tak Terselamatkan dari Paparan Asap

Muchlis - Kamis, 03 September 2026 17:21 WIB
Kisah Pilu Sempurna, Orang Utan Kalimantan yang Tak Terselamatkan dari Paparan Asap
Orang utan kalimantan bernama Sempurna ditemukan mengalami gangguan pernapasan di Ketapang, Kalimantan Barat
Topikseru.com, Ketapang - Upaya penyelamatan orang utan kalimantan bernama Sempurna berakhir duka. Satwa dengan nama ilmiah Pongo pygmaeus itu akhirnya mati setelah ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengonfirmasi kematian Sempurna setelah tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi dan penanganan medis pada 30 Agustus 2026. Sempurna ditemukan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Laporan mengenai keberadaan orang utan tersebut pertama kali disampaikan masyarakat sekitar pukul 07.00 WIB. Tim BKSDA Kalbar dan YIARI kemudian bergerak melakukan penyelamatan. Pertolongan pertama diberikan berupa terapi oksigen dan cairan melalui infus sebelum Sempurna dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB. Namun, kondisi satwa tersebut terus memburuk.

Napas Semakin Lemah, Sempurna Akhirnya Mati

Sekitar pukul 14.00 WIB, kondisi pernapasan Sempurna semakin menurun. Saturasi oksigen bahkan tidak lagi terdeteksi. Tim medis kemudian melakukan upaya resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) setelah Sempurna menunjukkan tanda-tanda henti napas. Namun, seluruh upaya tersebut tidak berhasil. Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB. BKSDA Kalimantan Barat menyampaikan duka cita sekaligus mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan keberadaan satwa tersebut sehingga proses penyelamatan dapat segera dilakukan. "Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," ujar Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane. Menurut Murlan, pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sempurna sekaligus mencari faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya.

Nekropsi Ungkap Gangguan pada Paru-paru

Untuk mengetahui penyebab kematian secara lebih mendalam, tim melakukan nekropsi terhadap tubuh Sempurna pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ penting, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Berdasarkan kondisi klinis sebelum kematian serta temuan dari pemeriksaan tersebut, perubahan pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap. Paparan asap tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru hingga menyebabkan hipoksia akut, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen. Kondisi kekurangan oksigen itu kemudian diduga ikut memengaruhi fungsi sistem kardiovaskular Sempurna hingga akhirnya berujung pada kematian. Meski demikian, faktor penyebab tersebut disampaikan sebagai dugaan berdasarkan riwayat klinis dan hasil pemeriksaan, bukan sebagai kesimpulan tunggal tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Respons Masyarakat Jadi Kunci Penyelamatan Satwa

Kasus Sempurna kembali menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat ketika menemukan satwa liar dalam kondisi darurat. Laporan warga menjadi pintu awal bagi petugas konservasi untuk melakukan evakuasi, terutama ketika satwa ditemukan sakit, terluka, atau terdampak kebakaran hutan dan lahan maupun kondisi lingkungan lainnya. BKSDA Kalimantan Barat pun mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan keberadaan Sempurna. "Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas," kata Murlan. Menurutnya, kecepatan laporan dapat menentukan kesempatan satwa untuk mendapatkan pertolongan medis.

Orang Utan Kalimantan Menghadapi Ancaman Lingkungan

Orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan salah satu satwa liar yang habitatnya berada di Pulau Kalimantan. Kasus Sempurna memperlihatkan bahwa ancaman terhadap satwa liar tidak selalu berbentuk konflik langsung dengan manusia. Perubahan kondisi lingkungan, termasuk paparan asap, juga dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan satwa. Karena itu, penanganan satwa terdampak membutuhkan kerja sama antara masyarakat, lembaga konservasi, pemerintah, dan organisasi penyelamatan satwa. Bagi BKSDA Kalimantan Barat, laporan masyarakat tetap menjadi salah satu bagian penting dalam sistem respons terhadap satwa liar yang membutuhkan pertolongan. Kematian Sempurna memang tidak dapat diubah. Namun, respons cepat warga yang melaporkan keberadaannya menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap satwa liar dapat membuka peluang penyelamatan sebelum kondisinya semakin kritis.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Waspada Bara Tersembunyi Gambut, Gibran Tinjau Kebakaran Lahan Kubu Raya Malam Hari
5 Perusahaan di Kalbar Kena Sanksi Karhutla, 2.568 Hektare Terbakar
Kemenhut Bekukan Izin PT MPK Usai Karhutla Berulang, 6 Perusahaan Disanksi
Prabowo Tegaskan Korporasi Pelaku Karhutla Bakal Ditindak, Izin Bisa Dicabut
Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kubu Raya, Pastikan Api Tak Meluas
Videotron di Melawi Tampilkan Konten Tak Pantas, Dugaan Peretasan Masih Diselidiki