Minggu, 01 November 2026

Siapa Dalang di Balik Deklarasi Sumpah Pemuda yang Dihadiri Raffi Ahmad? Peserta Akui Dibayar

Rizky Aisyah - Minggu, 01 November 2026 10:02 WIB
Siapa Dalang di Balik Deklarasi Sumpah Pemuda yang Dihadiri Raffi Ahmad? Peserta Akui Dibayar
Metro pekalongan
Raffi Ahmad saat menghadiri deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, 29 Oktober 2026. Polemik mencuat setelah seorang peserta mengaku bukan mahasiswa dan menerima bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut. Identitas pihak yang diduga mengatur perekrutan peserta masih menjadi pertanyaan.

Topikseru.com - Siapa pihak di balik polemik Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 yang dihadiri Raffi Ahmad di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada 29 Oktober 2026? Pertanyaan ini mencuat setelah seorang peserta mengaku bukan mahasiswa dan menerima bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Acara yang awalnya bertujuan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 itu kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, sejumlah peserta terlihat mengenakan jas almamater perguruan tinggi, tetapi identitas dan status kemahasiswaan mereka dipertanyakan.

Salah satu peserta yang menjadi perhatian bernama Bayu Setiadi alias Dino. Dalam video klarifikasi yang diunggah melalui organisasi mahasiswa Universitas Dian Nusantara (Undira), Bayu mengakui dirinya bukan mahasiswa kampus tersebut.

Baca Juga:

Ia juga mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam deklarasi tersebut berdasarkan undangan dari sebuah komunitas dan disertai bayaran.

Pengakuan itu menimbulkan pertanyaan baru mengenai pihak yang merekrut peserta, sumber dana yang digunakan, serta siapa yang mengatur penggunaan atribut perguruan tinggi dalam kegiatan tersebut.

Peserta Akui Dibayar, Siapa yang Memberikan Uang?

Pengakuan Bayu menjadi salah satu titik penting dalam polemik deklarasi tersebut.

Dalam video klarifikasinya, Bayu menyatakan mengikuti acara di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 atas undangan sebuah komunitas. Ia juga mengakui menerima bayaran untuk menghadiri kegiatan itu.

Bayu menjelaskan bahwa jas almamater Undira yang dikenakannya diberikan oleh pihak lain. Ia mengaku tidak mengetahui asal-usul atribut tersebut.

Ia kemudian menyampaikan permohonan maaf karena tindakannya telah menyeret nama perguruan tinggi ke dalam polemik.

Namun, pengakuan tersebut belum menjawab pertanyaan mengenai identitas komunitas yang mengundangnya, siapa pemberi bayaran, dan apakah ada pihak tertentu yang mengoordinasikan kehadiran para peserta.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang memastikan identitas pihak yang mendalangi dugaan pengerahan peserta berbayar tersebut.

Nama Kampus Lain Ikut Terseret

Polemik tidak hanya berkaitan dengan penggunaan almamater Undira.

Seorang peserta perempuan bernama Sari Putri juga menjadi sorotan setelah terlihat mengenakan jas almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dalam kegiatan tersebut.

Sari kemudian menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf terkait polemik penggunaan atribut kampus. Persoalan ini memicu pertanyaan mengenai apakah peserta yang hadir benar-benar mewakili perguruan tinggi masing-masing.

Kasus tersebut memperbesar sorotan terhadap penyelenggaraan deklarasi yang mengatasnamakan mahasiswa.

Sebab, penggunaan atribut kampus dalam kegiatan publik dapat menimbulkan kesan bahwa peserta merupakan mahasiswa aktif atau delegasi resmi perguruan tinggi, meskipun status tersebut belum tentu benar.

Polda Metro Jaya Minta Maaf

Polda Metro Jaya selaku penyelenggara kegiatan turut memberikan tanggapan setelah deklarasi tersebut menuai kritik.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang muncul.

Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa Raffi Ahmad dan kreator konten Willie Salim hadir sebagai tamu undangan, bukan sebagai pihak yang menyelenggarakan kegiatan.

Budi menyatakan dugaan adanya peserta yang bukan mahasiswa sedang dalam penyelidikan kepolisian.

Polda Metro Jaya juga menyebut kritik masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dan pelaksanaan kegiatan ke depan.

Pernyataan tersebut menjadi perkembangan penting karena penyelidikan diharapkan dapat menjelaskan bagaimana peserta direkrut dan bagaimana dugaan penggunaan identitas kampus terjadi.

Raffi Ahmad Bantah Terlibat dalam Perencanaan

Kehadiran Raffi Ahmad dalam deklarasi tersebut turut menjadi perhatian karena posisinya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Setelah menuai kritik, Raffi memberikan klarifikasi bahwa dirinya hadir sebagai undangan. Ia menyebut informasi mengenai kegiatan itu baru diterimanya pada malam sebelum acara berlangsung.

Raffi menegaskan tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat kehadirannya.

Sementara itu, Willie Salim juga menyatakan kehadirannya sebatas memenuhi undangan dan menyampaikan permohonan maaf karena kurang cermat memahami konteks kegiatan.

Dengan demikian, kehadiran kedua figur publik tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa mereka mengetahui atau terlibat dalam dugaan pengerahan peserta berbayar.

Siapa Dalang di Balik Deklarasi Sumpah Pemuda?

Pertanyaan mengenai siapa dalang di balik polemik deklarasi Sumpah Pemuda masih belum terjawab secara tuntas.

Sejumlah fakta telah muncul ke permukaan, mulai dari pengakuan peserta yang menerima bayaran, penggunaan atribut perguruan tinggi, hingga klarifikasi penyelenggara dan tamu undangan.

Namun, fakta-fakta tersebut belum cukup untuk memastikan siapa yang memerintahkan perekrutan peserta, siapa yang menyediakan dana, dan apakah terdapat perencanaan tertentu di balik kegiatan tersebut.

Untuk mengungkap persoalan ini, penyelidikan perlu menjelaskan identitas komunitas yang disebut oleh peserta, alur pemberian bayaran, pihak yang menyediakan almamater, serta mekanisme perekrutan orang-orang yang hadir.

Publik juga perlu mengetahui apakah peserta yang mengenakan atribut kampus memang dimaksudkan untuk mewakili mahasiswa atau hanya hadir sebagai individu.

Sampai ada hasil penyelidikan atau keterangan resmi lebih lanjut, menuding tokoh atau kelompok tertentu sebagai dalang masih terlalu dini.

Polemik ini menjadi pengingat bahwa kegiatan yang membawa nama mahasiswa dan semangat persatuan pemuda perlu diselenggarakan secara transparan, termasuk dalam hal perekrutan peserta dan penggunaan identitas perguruan tinggi.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Belasan UMKM Mundur dari RANS Carnival Jogja, Ada yang Telanjur Siapkan 2.000 Donat
Raffi Ahmad Dihantam Cancel Culture, RANS Carnival Jogja Terancam Sepi Usai Musisi dan UMKM Mundur
Raffi Ahmad Klarifikasi Deklarasi Sumpah Pemuda, Bantah Terlibat Atur Acara
Le Minerale Diboikot Usai Logo Muncul di Deklarasi Sumpah Pemuda, Ini Klarifikasinya
Demo Sumpah Pemuda Memanas, Sejumlah Mahasiswa Pingsan saat Desak-desakan dengan Aparat
Bukan Sekadar Ikrar, Ini 5 Fakta Jarang Diketahui di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda