Topikseru.com - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengirimkan pesan keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan, Iran akan menentukan sendiri waktu dan kondisi berakhirnya konflik apabila kembali menjadi sasaran serangan militer.
Pernyataan itu disampaikan Khamenei setelah bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi militer Iran. Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Teheran masih menyiapkan langkah pertahanan dan respons militer di tengah ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, Sabtu (31/10), Khamenei memperingatkan bahwa angkatan bersenjata dan rakyat Iran akan mengambil kendali atas keputusan mengakhiri konflik jika serangan kembali terjadi.
Baca Juga:
"Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iran-lah yang akan menentukan waktu dan kondisi bagi akhir mereka," kata Khamenei.
Instruksi itu disebut tidak dibatasi oleh wilayah geografis tertentu. Artinya, Teheran mengisyaratkan bahwa respons militernya tidak hanya akan berfokus pada wilayah yang menjadi lokasi serangan.
Khamenei turut memerintahkan pembaruan daftar sasaran militer. Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan aset-aset Amerika Serikat dan Israel masuk dalam jangkauan kemampuan angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan itu menjadi sinyal peningkatan kesiagaan militer Iran. Namun, belum ada rincian terbuka mengenai daftar target yang dimaksud maupun bentuk operasi yang akan disiapkan Teheran.
Akraminia mengatakan konflik berpotensi menjalar ke wilayah yang lebih luas apabila Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengambil langkah militer terhadap Iran bersama Israel.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (31/10), Akraminia menyebut militer Iran terus meningkatkan kesiapan tempur sekaligus memantau pergerakan Amerika Serikat di kawasan.
Dia juga memperingatkan bahwa akhir konflik tidak akan sepenuhnya berada di tangan Trump apabila Washington kembali melancarkan serangan.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun media sosial Akraminia dan diberitakan oleh sejumlah media internasional.
Upaya diplomatik sempat menghasilkan kesepahaman atau memorandum antara Washington dan Teheran pada Juni 2026. Namun, kesepakatan tersebut belum menghasilkan penyelesaian permanen.
Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat (Council on Foreign Relations/CFR) mencatat bahwa kesepahaman tersebut kemudian tidak bertahan.
Bentrokan terbatas kembali terjadi, sementara sejumlah persoalan utama belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan keamanan kawasan.
Jalur pelayaran tersebut memiliki arti strategis bagi perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap keamanan dan kebebasan navigasi di kawasan itu berpotensi memengaruhi distribusi minyak serta aktivitas pelayaran internasional.
Karena itu, ancaman Iran mengenai kemungkinan perluasan konflik tidak hanya menyangkut hubungan bilateral dengan Amerika Serikat dan Israel.
Eskalasi militer juga dapat membawa konsekuensi bagi negara-negara Teluk dan perekonomian global.
Pernyataan terbaru Mojtaba Khamenei memperlihatkan bahwa Teheran ingin menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan berikutnya.
Namun, apakah ancaman tersebut akan berkembang menjadi konfrontasi militer baru masih bergantung pada langkah yang diambil masing-masing pihak dan peluang diplomasi yang tersedia.