Topikseru.com -Pemandian Air Panas Sipoholon di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, memiliki daya tarik yang berbeda dari pemandian air panas pada umumnya. Selain airnya yang hangat, kawasan ini juga dikenal dengan bentang alam berupa endapan mineral berwarna putih hingga kuning yang membentuk permukaan menyerupai bukit dan undakan alami.
Pemandangan tersebut kerap membuat pengunjung penasaran. Bagaimana air panas bisa membentuk endapan menyerupai batuan putih? Mengapa di beberapa titik justru ditemukan endapan berwarna kuning?
Di balik keunikan tersebut, terdapat proses geologi yang berkaitan dengan aktivitas panas bumi di bawah permukaan tanah.
Baca Juga:
Endapan Putih di Sipoholon Bukan Salju
Salah satu ciri khas kawasan air panas Sipoholon adalah endapan putih yang menutupi sebagian permukaan tanah dan membentuk undakan-undakan alami.
Sekilas, tampilannya bisa mengingatkan pengunjung pada kawasan Pamukkale di Turki yang terkenal dengan teras-teras mineral berwarna putih. Namun, endapan di Sipoholon bukanlah salju.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa endapan putih tersebut berupa travertin, yaitu batuan sedimen yang terbentuk ketika mineral kalsium karbonat mengendap dari air.
Prosesnya berlangsung secara alami. Air panas yang membawa zat terlarut keluar ke permukaan mengalami perubahan kondisi, termasuk penurunan suhu dan pelepasan karbon dioksida. Kondisi ini dapat menyebabkan kalsium karbonat mengendap, kemudian menumpuk secara bertahap.
Dalam waktu yang panjang, endapan tersebut dapat membentuk lapisan, teras, hingga gundukan yang menjadi ciri khas bentang alam Sipoholon.
Mengapa Ada Endapan Berwarna Kuning?
Selain endapan putih, kawasan panas bumi Sipoholon dan sekitarnya juga memiliki endapan berwarna kuning yang berkaitan dengan mineral sulfur atau belerang.
Badan Geologi mencatat bahwa di Panabungan, salah satu lokasi mata air panas di kawasan tersebut, ditemukan air panas dengan suhu sekitar 47 derajat Celsius yang mengendapkan mineral sulfur berwarna kuning dan bertekstur lunak.
Sementara itu, mata air panas utama di Sipoholon yang diteliti memiliki suhu sekitar 64 derajat Celsius dan menghasilkan endapan travertin berwarna putih.
Perbedaan warna ini menunjukkan bahwa tidak semua mata air panas menghasilkan endapan dengan karakteristik yang sama. Komposisi kimia air, kondisi geologi, suhu, serta proses yang berlangsung ketika air mencapai permukaan dapat memengaruhi jenis endapan yang terbentuk.
Karena itu, warna putih dan kuning yang terlihat di kawasan ini bukan sekadar variasi pemandangan, melainkan petunjuk mengenai proses mineralisasi alami yang terjadi di bawah dan di permukaan tanah.
Apa Hubungannya dengan Aktivitas Panas Bumi?
Kemunculan mata air panas Sipoholon berkaitan dengan sistem panas bumi atau geotermal.
Dalam sistem ini, air yang berada di bawah permukaan tanah dipanaskan oleh sumber panas dari dalam bumi. Air panas kemudian bergerak melalui rekahan atau jalur tertentu pada batuan hingga muncul sebagai mata air di permukaan.
Badan Geologi melakukan survei panas bumi di Sipoholon dan daerah sekitarnya pada Agustus hingga September 2023. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya manifestasi panas bumi berupa mata air panas, endapan mineral, dan gelembung gas yang muncul di sejumlah titik.
Kondisi geologi kawasan tersebut turut memengaruhi karakter mata air panas yang muncul. Perbedaan jalur aliran air dan interaksinya dengan batuan di sekitarnya dapat menghasilkan karakteristik air serta endapan yang berbeda.
Inilah yang membuat kawasan Sipoholon menarik bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai tempat untuk mengenal proses geologi yang berlangsung secara alami.
Mengapa Endapan Mineralnya Bisa Membentuk Bukit?
Endapan travertin tidak terbentuk dalam waktu singkat. Mineral yang mengendap dari air akan menumpuk sedikit demi sedikit, mengikuti jalur aliran air dan kondisi permukaan tempat pengendapan berlangsung.
Jika proses tersebut terus terjadi selama waktu yang panjang, lapisan mineral dapat berkembang menjadi teras atau gundukan yang terlihat seperti bukit kecil.
Di Sipoholon, bentang alam berupa endapan putih ini menjadi salah satu daya tarik visual bagi pengunjung. Permukaannya terlihat kontras dengan warna air dan lingkungan di sekitarnya.
Meski demikian, bentuk kawasan tersebut tidak selalu tetap. Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) pernah melaporkan bahwa bentuk bukit di Sipoholon dapat berubah, antara lain karena pengambilan endapan travertin dan belerang oleh masyarakat.
Artinya, pemandangan yang terlihat saat ini merupakan hasil dari proses alam yang berlangsung lama sekaligus perubahan yang terjadi akibat aktivitas manusia.
Bolehkah Berendam di Air Panas Sipoholon?
Air panas Sipoholon dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat pemandian dan tujuan wisata. Pengunjung dapat menikmati pengalaman berendam sambil melihat lanskap endapan mineral yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Namun, suhu air di sumber alami tidak selalu sama dengan suhu air di kolam pemandian. Hasil survei Badan Geologi mencatat suhu sekitar 64 derajat Celsius pada salah satu mata air panas utama di Sipoholon.
Suhu tersebut cukup tinggi untuk menyebabkan luka bakar. Karena itu, pengunjung sebaiknya hanya menggunakan kolam yang memang disediakan untuk berendam, mengikuti petunjuk pengelola, dan menghindari sumber air yang terlalu panas.
Selain itu, keberadaan belerang atau mineral alami tidak otomatis membuktikan bahwa air dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Klaim kesehatan perlu didukung bukti ilmiah yang memadai.
Pengunjung juga sebaiknya tidak mengambil endapan mineral sembarangan atau membuang sampah ke area sumber air agar keunikan alam Sipoholon tetap terjaga.
Keunikan Sipoholon Bukan Sekadar Air Panas
Pemandian Air Panas Sipoholon menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk berendam. Endapan putih yang membentuk teras alami dan endapan kuning yang ditemukan di lokasi tertentu memperlihatkan bagaimana air, mineral, batuan, dan panas bumi berinteraksi selama waktu yang panjang.
Fenomena tersebut sekaligus menjelaskan mengapa kawasan ini memiliki tampilan yang berbeda dari pemandian air panas biasa.
Jadi, jika melihat endapan berwarna putih hingga kuning di Sipoholon, warna tersebut bukanlah fenomena tanpa penjelasan. Di baliknya terdapat proses geologi yang menjadikan kawasan Tapanuli Utara ini menarik untuk dipelajari sekaligus dikunjungi.