Rabu, 23 September 2026

Kisah Kevin Vincent, Mahasiswa ITB Berusia 14 Tahun: Pernah Gagal SNBP hingga Lolos FTTM lewat SNBT

Muchlis - Rabu, 16 September 2026 17:27 WIB
Kisah Kevin Vincent, Mahasiswa ITB Berusia 14 Tahun: Pernah Gagal SNBP hingga Lolos FTTM lewat SNBT
mahasiswa ITB 14 tahun
Topikseru.com, Bandung - Usia 14 tahun biasanya masih identik dengan bangku pendidikan menengah. Namun, Kevin Vincent Noel Sitanggang justru memulai babak baru sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Kevin tercatat sebagai mahasiswa baru Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Di balik usianya yang masih sangat muda, terdapat perjalanan pendidikan yang tidak singkat. Dia melewati program akselerasi, berbagai kompetisi akademik, kegagalan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), hingga akhirnya berhasil masuk ITB melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Bagi Kevin, menjadi mahasiswa ITB bukan sekadar pencapaian akademik. Kampus tersebut telah menjadi bagian dari impian yang ia bangun sejak masih kecil. "Saya adalah anak kecil yang punya banyak mimpi. Salah satunya adalah bermimpi bisa menjadi mahasiswa ITB," ujar Kevin.

Memulai SD pada Usia Lima Tahun

Perjalanan pendidikan Kevin berlangsung lebih cepat dibandingkan kebanyakan siswa seusianya. Dia mulai masuk sekolah dasar (SD) ketika berusia lima tahun. Saat duduk di kelas satu pada 2016, ayah Kevin mendaftarkannya mengikuti program akselerasi. Pada awalnya, Kevin sempat khawatir karena menyadari bahwa program tersebut akan membuatnya menghadapi beban belajar yang lebih tinggi. Kekhawatiran itu akhirnya dapat dilewati. Kevin menyelesaikan pendidikan SD dalam waktu empat tahun dan melanjutkan ke jenjang SMP ketika berusia sembilan tahun. Sejak bangku SD, ia juga mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik. Saat SMP, Kevin mengikuti Kompetisi Sains Nasional (KSN) Matematika dan English Speech Contest tingkat kota. Ketika memasuki SMA, aktivitas akademiknya berlanjut melalui Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika serta sejumlah kompetisi matematika, termasuk yang digelar Universitas Pasundan. Dia juga pernah meraih juara ketiga English Speech Contest tingkat SMA se-Kota Bandung.

Lima Semester Berturut-turut di Peringkat Pertama

Prestasi akademik Kevin tidak berhenti pada keikutsertaan dalam kompetisi. Selama SMA, ia mampu mempertahankan posisi peringkat pertama selama lima semester berturut-turut. Pada acara pelepasan siswa, Kevin juga memperoleh penghargaan sebagai siswa peringkat ketiga terbaik di bidang sains. Namun, catatan tersebut tidak serta-merta membuat jalannya menuju ITB menjadi mulus. Kevin sebelumnya dinyatakan eligible pada peringkat kelima untuk mengikuti pendaftaran melalui jalur SNBP. Saat itu, ia memilih FMIPA-M ITB dan FTI-RI ITB. Hasil yang diterima Kevin ternyata tidak sesuai harapan. Ia belum berhasil mendapatkan kursi melalui jalur tersebut. Kegagalan itu kemudian membuat Kevin mengalihkan fokus ke jalur SNBT atau UTBK. Dengan arahan sang ayah yang merupakan alumni Teknik Pertambangan ITB, Kevin akhirnya menjadikan FTTM ITB sebagai pilihan pertama. Keputusan tersebut membuahkan hasil. Kevin dinyatakan lolos dan resmi menjadi mahasiswa FTTM ITB. "Saya mempersiapkan UTBK sekitar dua bulan dan sebetulnya hasilnya kurang maksimal. Saya pun mengira saya tidak akan lolos. Namun, Tuhan memiliki rencana yang lain," tuturnya.

Kevin: Saya Lebih Banyak Gagal daripada Berhasil

Kisah Kevin mungkin terlihat seperti perjalanan akademik yang penuh keberhasilan. Namun, ia justru memiliki pandangan berbeda terhadap perjalanan tersebut. Kevin tidak ingin dirinya dilihat sebagai seseorang yang selalu berhasil dalam menghadapi tantangan akademik. "Mungkin banyak orang yang mengira bahwa saya adalah anak yang sudah pintar sejak lahir dan bisa melalui tantangan akademik apa pun dengan mudah. Faktanya, saya lebih banyak gagal daripada berhasil," katanya. Pernyataan tersebut menggambarkan sisi lain perjalanan mahasiswa ITB berusia 14 tahun itu. Perbedaan usia dengan teman-teman seangkatannya juga menjadi tantangan tersendiri. Kevin mengaku terkadang merasa lelah karena harus mengikuti ritme belajar yang cepat. Dia juga pernah menghadapi impostor syndrome serta kekhawatiran akan dipandang berbeda karena usianya yang jauh lebih muda dibandingkan mahasiswa lain. Dalam situasi tersebut, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi bagian penting dalam perjalanan Kevin. Ayahnya menjadi salah satu sosok yang banyak membentuk dirinya. Sementara itu, ibu dan kedua kakaknya menjadi support system yang mendampingi Kevin dalam menjalani proses pendidikan.

Guru yang Membuat Mimpi ITB Terasa Lebih Dekat

Selain keluarga, Kevin juga mendapatkan inspirasi dari lingkungan sekolah. Salah satu sosok yang mendorong impiannya untuk berkuliah di ITB adalah Pak Kosasih, seorang purnabakti dosen Fisika ITB. Bagi Kevin, pengalaman belajar bersama Pak Kosasih membuat gambaran mengenai ITB terasa semakin dekat. Setiap kali guru tersebut mengajar dan memberikan ujian, keinginan Kevin untuk melanjutkan pendidikan di ITB semakin kuat. Dari perjalanan itu, Kevin mendapatkan satu pelajaran penting tentang proses. "Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap berjalan, membuat kemajuan, bahkan ketika rasanya kita hanya jalan di tempat," ujar Kevin.

Persiapan UTBK: Memperbanyak Latihan Soal

Cara belajar menjadi salah satu aspek yang ikut membantu Kevin menghadapi UTBK. Dalam persiapan selama sekitar dua bulan, ia lebih banyak mengerjakan try out dan latihan soal. Cara tersebut dilakukan untuk membuat dirinya semakin terbiasa dengan pola pertanyaan yang akan dihadapi. Karena telah memiliki dasar sains yang cukup, Kevin tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengulang konsep dari awal. Dalam kegiatan belajar sehari-hari, ia juga menggunakan sejumlah metode belajar, termasuk Feynman Technique dan Active Recall. Kedua metode tersebut digunakan untuk memastikan bahwa materi yang dipelajari bukan sekadar dihafalkan, tetapi benar-benar dipahami. Kevin juga menerapkan teknik Pomodoro dengan pola 50 menit belajar dan 10 menit istirahat. Pola tersebut dilakukan sebanyak dua repetisi. Menurut Kevin, pola belajar yang teratur lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan motivasi. "Jadwal belajar harian sangat krusial dalam membangun disiplin karena jika hanya bergantung pada motivasi dan semangat, kita akan cepat kelelahan atau burnout. Motivasi kita bisa redup kapan saja," ujarnya.

Tetap Bermain Piano dan Menjaga Waktu Istirahat

Meski aktivitas akademiknya cukup padat, Kevin tidak sepenuhnya menghabiskan waktunya dengan buku dan latihan soal. Ia masih menyempatkan diri menjalani hobinya bermain piano. Kecintaan terhadap alat musik tersebut diperkenalkan oleh ayahnya sejak Kevin masih duduk di bangku SD. Kevin juga menyadari pentingnya memisahkan waktu belajar dengan waktu pemulihan fisik dan mental. Baginya, belajar secara konsisten tidak berarti harus terus-menerus memaksakan diri. Ibadah menjadi salah satu cara yang ia lakukan untuk menjaga keseimbangan di tengah rutinitas pendidikan dan aktivitas akademik.

Pilih FTTM karena Terinspirasi dari Sang Ayah

Pilihan Kevin terhadap FTTM ITB juga tidak terlepas dari pengaruh keluarga. Ketertarikannya terhadap dunia pertambangan bermula ketika sang ayah memperkenalkan berbagai hal terkait alat berat dan industri pertambangan. Sebagai alumni Teknik Pertambangan ITB, ayah Kevin juga menceritakan bagaimana sumber daya alam dapat dieksplorasi hingga ratusan meter di bawah permukaan tanah. Dari sana, ketertarikan Kevin terhadap bidang tersebut mulai tumbuh. Kini, Kevin resmi menjadi bagian dari FTTM ITB. Ia memasuki lingkungan baru dengan tantangan yang tentu berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya. Namun, pengalaman menghadapi kegagalan dan tekanan akademik sejak sekolah membuatnya memahami bahwa perjalanan menuju sebuah tujuan tidak selalu berjalan lurus.

Bagi Kevin, Proses Lebih Penting daripada Hasil

Perjalanan Kevin menuju ITB membuatnya memahami bahwa pencapaian tidak hanya dapat dilihat dari hasil akhir. Kegagalan saat SNBP, misalnya, tidak menghentikannya untuk mencoba jalur lain. Ia kemudian mempersiapkan diri menghadapi UTBK hingga akhirnya berhasil diterima di FTTM ITB. Kevin menyadari bahwa semakin jauh sebuah tujuan, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. "Akan terasa lebih sulit ketika mengejar sesuatu yang jauh di depan ketika kita menyadari bahwa kita masih ada di belakang," katanya. Pesan dari sang ayah pun terus ia ingat: “Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?” Kini, ITB bukan lagi sekadar mimpi seorang anak kecil. Kampus tersebut menjadi tempat bagi Kevin untuk melanjutkan perjalanan pendidikan sekaligus menghadapi tantangan baru. Bagi Kevin, keberhasilan bukan hanya persoalan mencapai hasil akhir. Proses selama perjalanan justru menjadi bagian yang paling banyak membentuk dirinya. "Berjuanglah bukan untuk hasil, tetapi untuk proses. Belajarlah bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk mereka yang telah lebih dulu berkorban demi memastikan kita bisa belajar dengan baik," katanya. Dengan usia 14 tahun, Kevin kini membuka lembaran baru sebagai mahasiswa FTTM ITB. Perjalanan berikutnya tentu akan membawa tantangan yang berbeda. Namun, satu hal yang telah ia pelajari sejak awal perjalanan pendidikan adalah pentingnya terus bergerak meski hasil yang diharapkan belum selalu datang. "ITB adalah rumah kedua terbaik untuk kalian para calon putra-putri terbaik bangsa. Aku tunggu kalian di ITB!" katanya.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
XLSMART Dorong Ekonomi Sirkular Bawa #ByeByeBox untuk Kelola E-Waste ke ITB
KPK Ungkap Dugaan Pengondisian Maba Tak Cuma di Unila dan Unsoed, Kampus Lain Diminta Berbenah
Pemerintah Siapkan Beasiswa untuk Ribuan Mahasiswa Korban Bencana NTT
Siswa Deli Serdang Raih 4 Medali di Olimpiade Internasional Malaysia
Sosok Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Jadi Sorotan Saat Demo di Bundaran HI
Demo BEM UI di Bundaran HI Memanas, Mahasiswa Terlibat Dorong-dorongan dengan Polisi