Topikseru.com - Jumlah investor pasar modal Indonesia terus menanjak. Hingga Agustus 2026, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 31,13 juta.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal.
KSEI menyebut kemudahan teknologi digital, semakin luasnya edukasi keuangan, serta meningkatnya kesadaran mengenai perencanaan finansial menjadi sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan investor.
Baca Juga:
Data OJK sebelumnya juga mencatat jumlah investor pasar modal mencapai sekitar 31,14 juta hingga akhir Agustus 2026, dengan pertumbuhan 52,9 persen secara year to date.
Abdul Azis Albakkar dari Unit Edukasi dan Layanan Jasa Investor KSEI mengatakan jumlah SID meningkat pesat dalam enam tahun terakhir, terutama seiring semakin mudahnya masyarakat mengakses produk investasi melalui platform digital.
Data KSEI yang disampaikan dalam kegiatan di Palu menunjukkan Gen Z dan milenial menyumbang porsi terbesar investor, mencapai 78,55 persen dengan nilai aset Rp 357,7 triliun.
Setelah kelompok tersebut, terdapat Gen X dengan porsi 28,69 persen dan nilai aset Rp 620,9 triliun.
Sementara itu, Baby Boomers hanya mencatatkan porsi 2,79 persen. Namun, kelompok ini memiliki nilai aset mencapai Rp 928,7 triliun.
Angka tersebut memperlihatkan perbedaan menarik dalam struktur pasar modal Indonesia: jumlah investor muda sangat besar, tetapi kepemilikan aset tidak otomatis mengikuti besarnya jumlah investor.
Namun, nilai aset kelompok tersebut justru jauh lebih tinggi.
"Meski persentase Baby Boomers kecil namun mereka memiliki jumlah aset lebih banyak dibandingkan Gen Z dan Gen X," kata Azis.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa jumlah investor dan nilai aset merupakan dua indikator yang berbeda dalam membaca perkembangan pasar modal.
Kelompok investor muda dapat menjadi basis pertumbuhan investor baru, sementara kelompok usia yang lebih tua memiliki akumulasi aset yang lebih besar.
Investor laki-laki tercatat mencapai 64,49 persen, dengan total aset sekitar Rp 1.333 triliun.
Sementara itu, investor perempuan memiliki porsi 35,51 persen dengan nilai aset sekitar Rp 574 triliun.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah investor perempuan masih menjadi salah satu ruang pertumbuhan dalam ekosistem investasi nasional.