Selasa, 03 November 2026

Nama Ahmad Dhani Disebut di Sidang Korupsi Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil

Muchlis - Selasa, 03 November 2026 14:32 WIB
Nama Ahmad Dhani Disebut di Sidang Korupsi Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil
Nama Ahmad Dhani muncul dalam sidang perkara dugaan korupsi Bea Cukai. KPK menyatakan terbuka terhadap kemungkinan menghadirkannya sebagai saksi jika diperlukan dalam pembuktian.

Topikseru.com - Nama musisi sekaligus anggota DPR RI Ahmad Dhani muncul dalam persidangan perkara dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun membuka kemungkinan menghadirkannya sebagai saksi apabila diperlukan dalam proses pembuktian.

Peluang tersebut disampaikan Juru Bicara KPK Budi Prasetyo setelah Ahmad Dhani disebut dalam sidang yang berlangsung pada Senin (2/11/2026).

Budi menegaskan, pemanggilan seseorang sebagai saksi dapat dilakukan sesuai kebutuhan pembuktian dan perkembangan fakta di persidangan.

Baca Juga:

Apabila majelis hakim memerintahkan jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan Ahmad Dhani, KPK menyatakan terbuka terhadap kemungkinan tersebut.

"Jika nanti majelis hakim memerintahkan agar JPU (jaksa penuntut umum) menghadirkan yang bersangkutan sebagai saksi dalam suatu sidang, maka semua terbuka kemungkinan," kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Ahmad Dhani Disebut Pernah Minta Bantuan Terkait Produsen Rokok

Nama Ahmad Dhani mencuat ketika terdakwa kasus Bea Cukai, Budiman Bayu Prasojo, menjalani pemeriksaan di persidangan.

Dalam keterangannya kepada JPU, Budiman mengonfirmasi bahwa Ahmad Dhani pernah meminta bantuan untuk saudaranya yang diketahui merupakan produsen rokok.

Permintaan bantuan tersebut disebut berkaitan dengan persoalan salah peruntukan yang sedang dihadapi produsen rokok tersebut.

Selain keterangan itu, JPU juga memperlihatkan percakapan antara Ahmad Dhani dan terdakwa Rizal. Dalam percakapan yang ditampilkan di persidangan, musisi tersebut disebut menawarkan tiket gratis untuk menyaksikan penampilan sebuah band.

Kemunculan nama Ahmad Dhani dalam pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari fakta persidangan yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Namun, penyebutan nama seseorang dalam persidangan tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan dalam tindak pidana. Perlu ada pemeriksaan dan pembuktian lebih lanjut untuk mengetahui konteks komunikasi maupun hubungan dengan perkara yang sedang disidangkan.

KPK Tunggu Perkembangan Fakta Persidangan

Budi Prasetyo menjelaskan, seluruh keterangan saksi yang muncul dalam persidangan akan menjadi bahan analisis jaksa penuntut umum.

Menurut dia, keterangan tersebut dapat membantu mengurai kronologi kejadian sekaligus memperjelas konstruksi perkara yang sedang diperiksa majelis hakim.

"Pada prinsipnya, keterangan-keterangan saksi nantinya akan memperjelas dalam proses pembuktian perkara di persidangan," ujarnya.

KPK juga meminta masyarakat mengikuti jalannya persidangan yang berlangsung terbuka. Dengan demikian, publik dapat mencermati setiap fakta secara utuh dan tidak hanya mengambil kesimpulan dari potongan informasi yang beredar.

Budi menambahkan, setiap fakta yang terungkap akan dianalisis JPU untuk membantu menjelaskan rangkaian peristiwa di hadapan majelis hakim.

Perkara Bea Cukai Berawal dari OTT KPK Februari 2026

Kasus dugaan korupsi di lingkungan Bea Cukai tersebut bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Februari 2026.

Penyidikan kemudian berkembang. Pada 21 Juli 2026, KPK mengumumkan penerbitan dua surat perintah penyidikan (sprindik) untuk mengusut perkara tersebut lebih lanjut.

Hingga September 2026, sembilan orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam rangkaian perkara tersebut. Mereka terdiri dari pejabat Bea Cukai dan pihak swasta.

Berikut nama-nama yang telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan informasi perkara:

  • Rizal, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Bagian Barat.
  • Sisprian Subiaksono, Kepala Subdirektorat Intelijen Bea Cukai.
  • Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Penindakan II Bea Cukai.
  • John Field, pemilik Blueray Cargo.
  • Dedy Kurniawan, Manajer Operasional Blueray Cargo.
  • Andri, Ketua Tim Dokumentasi Importasi Blueray Cargo.
  • Budiman Bayu Prasojo, Kepala Seksi Intelijen Cukai Bea Cukai.
  • Gatot Heroe Hernanda, Kepala Kantor Bea Cukai Kediri.
  • Ahmad Dedi, pejabat fungsional Bea Cukai Madya.

Penggeledahan Meluas hingga Perusahaan Terafiliasi Djarum

Penyidikan kembali berkembang pada akhir Oktober 2026. Pada 28 Oktober, KPK mengumumkan penerbitan satu sprindik umum untuk pengembangan perkara.

Penyidik kemudian menggeledah Kantor Bea Cukai Kudus dan kantor PT Djarum di Kudus, Jawa Tengah.

Sehari berselang, penggeledahan dilanjutkan ke enam perusahaan yang disebut terafiliasi dengan PT Djarum di wilayah Kudus.

Pada 30 Oktober 2026, penyidik bergerak ke Semarang. Sejumlah lokasi yang digeledah meliputi Kantor Bea Cukai Semarang serta Kantor Wilayah Bea dan Cukai Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rangkaian penggeledahan tersebut dilakukan untuk mencari bukti dugaan penyimpangan penerimaan negara dari sektor cukai. Potensi kerugian negara dalam perkara ini diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

KPK juga masih mendalami dugaan pemberian uang dari pihak PT Djarum kepada sejumlah pihak di lingkungan Bea Cukai.

Keterangan Ahmad Dhani Masih Menunggu Proses Pembuktian

Dengan munculnya nama Ahmad Dhani dalam persidangan, perhatian kini tertuju pada kemungkinan pendalaman komunikasi antara musisi tersebut dan sejumlah pihak yang sedang berperkara.

Meski KPK membuka peluang menghadirkannya sebagai saksi, belum ada kepastian bahwa Ahmad Dhani akan dipanggil untuk memberikan keterangan.

Penentuan saksi tetap bergantung pada kebutuhan pembuktian, perkembangan fakta persidangan, serta pertimbangan majelis hakim.

Karena itu, publik masih perlu menunggu perkembangan resmi dari KPK mengenai apakah keterangan Ahmad Dhani dibutuhkan untuk mengurai perkara dugaan korupsi di lingkungan Bea Cukai tersebut.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
KPK Bongkar Dugaan Permainan Cukai Djarum Sejak 2010, Potensi Kerugian Negara Tembus Triliunan Rupiah
KPK Geledah 6 Perusahaan Terafiliasi Djarum, Kerugian Negara Triliunan
KPK Tetapkan Dedi Congor Tersangka, Kasus Korupsi Bea Cukai Jadi 9 Orang
KPK Periksa Ipar Mantan Kepala BNPB Soal Dugaan Konflik Kepentingan
KPK Usut Dugaan Korupsi Cukai Djarum, Kerugian Negara Triliunan
Silmy Karim Didakwa Peras Biro Visa Rp 168,92 Miliar, Jaksa Ungkap Modus Dokumen Imigrasi