Sabtu, 07 November 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.753/US$, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Trump-Warsh

Muchlis - Kamis, 17 September 2026 16:42 WIB
Rupiah Anjlok ke Rp 17.753/US$, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Trump-Warsh
rupiah anjlok suku bunga The Fed
Topikseru.com - Pasar keuangan domestik kembali dihantam gelombang tekanan eksternal. Nilai tukar rupiah ditutup merosot pada perdagangan Kamis (17/9/2026), terseret oleh langkah mengejutkan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan serta eskalasi friksi politik antara Gedung Putih dan otoritas moneter tertinggi AS tersebut. Berdasarkan data perdagangan pasar spot, nilai tukar rupiah per dolar AS melemah 57 poin atau terkoreksi 0,32% ke posisi Rp 17.753/US$. Angka ini merosot dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.696/US$. Sejalan dengan pergerakan pasar spot, data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan kurs JISDOR Bank Indonesia turut melemah ke posisi Rp 17.753 per dolar AS dari acuan sebelumnya di Rp 17.712 per dolar AS.

Kejutan Hawk The Fed dan Lonjakan Suku Bunga FFR

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengungkapkan bahwa pemicu utama tren negatif mata uang Garuda adalah keputusan bulat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mengetatkan kebijakan moneter. "Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada Rabu (16/9/2026). Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023," terang Ibrahim dalam analisis tertulisnya, Kamis (17/9/2026). Langkah agresif ini diambil menyusul pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyampaikan kecemasan mendalam atas laju inflasi AS. Warsh menegaskan bahwa sebagian besar komponen harga barang dan jasa masih mencatatkan laju kenaikan tahunan di atas ambang toleransi 3% dalam rentang pengamatan 6 hingga 12 bulan terakhir. Sinyal hawkish dari Kevin Warsh inflasi AS tersebut mengindikasikan bahwa siklus kenaikan suku bunga acuan belum akan berhenti dan membuka peluang pengetatan lanjutan pada rapat-rapat mendatang.

Tensi Politik Washington: Trump vs The Fed

Kondisi pasar kian volatil setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka melontarkan kecaman tajam terhadap keputusan bank sentral. Hanya selang beberapa jam pasca-pengumuman FOMC, Trump menuntut agar The Fed justru memangkas suku bunga secara drastis hingga ke level 1% atau bahkan lebih rendah. Fenomena rupiah anjlok suku bunga The Fed ini pun makin diperberat oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap independensi otoritas moneter AS. "Pernyataan tersebut mencerminkan perselisihan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen," tambah Ibrahim. Perseteruan sengit Donald Trump The Fed ini memicu ketidakpastian tinggi di pasar uang global, mendorong investor menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan mengamankan aset dalam bentuk dolar AS (safe haven).

Sumber
:
Berita Terkait
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini