Rabu, 21 Oktober 2026

Investasi RI Tembus Rp 1.539 Triliun hingga September 2026, Serap 2,19 Juta Pekerja

Muchlis - Selasa, 20 Oktober 2026 06:05 WIB
Investasi RI Tembus Rp 1.539 Triliun hingga September 2026, Serap 2,19 Juta Pekerja
Foto: BPMI Sekretariat Presiden
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani memberi keterangan kepada wartawan seusai melaporkan perkembangan ekonomi kepada Presiden dalam rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Topikseru.com - Realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.539,2 triliun sepanjang Januari-September 2026. Capaian tersebut diikuti penyerapan 2,19 juta tenaga kerja baru, di tengah upaya pemerintah memperkuat pertumbuhan ekonomi dan memperluas pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi hingga September 2026 telah mencapai 75,4 persen dari target pemerintah sepanjang tahun.

Dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, Rosan mengatakan investasi yang terealisasi selama sembilan bulan pertama tahun ini menyerap sebanyak 2.194.496 tenaga kerja.

Baca Juga:

Sementara itu, nilai investasi pada kuartal III 2026 tercatat mencapai Rp 528,7 triliun. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan aktivitas penanaman modal di Indonesia selama tahun berjalan.

Di balik angka investasi tersebut, terdapat sejumlah perkembangan yang menjadi perhatian, mulai dari komposisi modal asing dan domestik, pergeseran persebaran investasi ke luar Jawa, hingga besarnya aliran modal ke sektor hilirisasi.

Investasi Indonesia Baru Capai 75,4 Persen dari Target 2026

Realisasi investasi sebesar Rp 1.539,2 triliun hingga September 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar target tahunan pemerintah telah tercapai.

Meski demikian, capaian tersebut masih menyisakan pekerjaan untuk memenuhi target investasi sepanjang 2026. Pemerintah perlu menjaga momentum penanaman modal pada kuartal terakhir agar realisasi investasi dapat terus meningkat.

Penyerapan lebih dari 2,19 juta tenaga kerja menjadi salah satu indikator penting dari aktivitas investasi tersebut. Namun, jumlah pekerja yang terserap belum dengan sendirinya menggambarkan kualitas pekerjaan, tingkat upah, maupun keberlanjutan lapangan kerja yang tercipta.

Karena itu, perkembangan investasi perlu dilihat tidak hanya dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap produktivitas, kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Modal Asing Masih Unggul, Investasi Domestik Mendekati Rp 762 Triliun

Dari sisi asal modal, penanaman modal asing (PMA) masih memberikan kontribusi sedikit lebih besar dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Berdasarkan data yang disampaikan Rosan, nilai PMA mencapai Rp 777,8 triliun atau 50,5 persen dari total investasi. Sementara itu, PMDN tercatat sebesar Rp 761,4 triliun, setara dengan 49,5 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa investasi nasional ditopang oleh dua sumber utama, yakni modal asing dan modal domestik, dengan selisih nilai yang relatif tipis.

PMA berperan dalam membawa modal, teknologi, dan akses pasar internasional. Sementara PMDN mencerminkan aktivitas investasi pelaku usaha dalam negeri untuk mengembangkan kapasitas bisnis di berbagai sektor.

Ke depan, perkembangan kedua komponen tersebut menjadi penting untuk dicermati, terutama dalam kaitannya dengan daya saing industri nasional, kepastian regulasi, serta kemampuan Indonesia menarik investasi yang menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Investasi di Luar Jawa Capai Rp 779,4 Triliun

Salah satu perkembangan yang menonjol adalah besarnya realisasi investasi di luar Pulau Jawa.

Sepanjang Januari-September 2026, investasi di luar Jawa mencapai Rp 779,4 triliun atau 50,6 persen dari total realisasi nasional. Adapun investasi di Pulau Jawa tercatat sebesar Rp 759,8 triliun atau 49,4 persen.

Dengan komposisi tersebut, investasi di luar Jawa unggul sekitar Rp 19,6 triliun dibandingkan investasi di Jawa.

Data ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh investasi nasional yang terealisasi selama periode tersebut berada di luar Pulau Jawa.

Meski demikian, angka agregat tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa kesenjangan ekonomi antarwilayah telah berkurang secara merata.

Dampak pemerataan tetap bergantung pada lokasi proyek, keterlibatan pelaku usaha lokal, pembangunan infrastruktur, serta seberapa besar aktivitas investasi mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Perkembangan ini juga membuat wilayah di luar Jawa semakin relevan dalam peta investasi nasional, terutama daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan peluang pengembangan industri pengolahan.

Singapura Jadi Sumber PMA Terbesar ke Indonesia

Dari sisi negara asal modal asing, Singapura menempati posisi teratas dengan nilai investasi mencapai US$14 miliar atau 29,6 persen.

Hong Kong berada di posisi berikutnya dengan investasi US$12,8 miliar atau 27,2 persen. Sementara itu, Tiongkok menyumbang US$5 miliar atau 10,5 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi ketiga sumber investasi tersebut terhadap arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

Singapura mencatat nilai investasi tertinggi dalam daftar yang disampaikan pemerintah, disusul Hong Kong dan Tiongkok.

Data ini dapat menjadi salah satu acuan untuk melihat hubungan investasi Indonesia dengan pusat-pusat bisnis dan keuangan di kawasan Asia.

Meski demikian, nilai investasi berdasarkan negara asal perlu dibaca secara cermat. Negara asal investasi tidak selalu identik dengan negara pemilik akhir modal karena investasi internasional dapat melewati berbagai struktur perusahaan dan yurisdiksi.

Hilirisasi Raup Investasi Rp 480 Triliun

Selain investasi secara keseluruhan, pemerintah juga mencatat realisasi investasi sektor hilirisasi mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari-September 2026.

Sektor mineral menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 335,1 triliun. Investasi tersebut mencakup berbagai komoditas, mulai dari nikel, bauksit, besi dan baja, tembaga, hingga pasir silika.

Sektor perkebunan dan kehutanan menyusul dengan nilai investasi Rp 83,6 triliun. Berikutnya, sektor minyak dan gas bumi mencatat Rp 54 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan mencapai Rp 7,3 triliun.

Dominasi sektor mineral memperlihatkan besarnya porsi investasi yang mengalir ke industri berbasis sumber daya alam dalam agenda hilirisasi Indonesia.

Hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengolahan di dalam negeri, sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.

Namun, keberhasilan strategi tersebut juga perlu dinilai melalui kemampuan industri menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterlibatan pemasok lokal, memperluas transfer teknologi, dan menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Aspek lingkungan dan keberlanjutan juga menjadi perhatian, terutama untuk kegiatan industri yang memerlukan energi besar serta pengolahan sumber daya alam.

Sebanyak 78 Persen Investasi Hilirisasi Berada di Luar Jawa

Rosan turut menyoroti persebaran investasi hilirisasi yang terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Menurutnya, investasi hilirisasi di luar Jawa mencapai 78 persen dari total investasi sektor tersebut.

Angka ini memperlihatkan bahwa pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya alam memiliki peran penting dalam aktivitas investasi di luar Jawa.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi daerah yang memiliki komoditas unggulan untuk mengembangkan industri pengolahan dan memperkuat rantai pasok lokal.

Namun, besarnya investasi belum otomatis menjamin pemerataan manfaat ekonomi. Dampaknya akan sangat ditentukan oleh keterhubungan kawasan industri dengan usaha lokal, penyerapan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan dampak lingkungan.

Bagi pemerintah daerah, tantangannya bukan hanya menarik investor, melainkan memastikan bahwa investasi yang masuk mampu menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

Tantangan Investasi Indonesia pada Kuartal IV 2026

Dengan realisasi mencapai Rp 1.539,2 triliun hingga September, perhatian berikutnya tertuju pada kemampuan pemerintah mempertahankan momentum investasi pada kuartal IV 2026.

Ada sejumlah indikator yang layak dicermati, mulai dari perkembangan realisasi investasi terhadap target tahunan, penyerapan tenaga kerja, keseimbangan PMA dan PMDN, hingga persebaran proyek di luar Jawa.

Sektor hilirisasi juga menjadi perhatian karena menyumbang investasi Rp 480 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Bagi perekonomian nasional, tantangan investasi bukan semata-mata mengejar angka realisasi, tetapi memastikan modal yang masuk dapat memperkuat kapasitas industri, memperluas kesempatan kerja, dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Capaian hingga September 2026 memberikan gambaran mengenai perkembangan penanaman modal nasional. Adapun hasil akhirnya akan bergantung pada realisasi proyek berikutnya dan kemampuan investasi tersebut memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Danantara Gabungkan 23 Kawasan Industri, Target Jadi Terbesar di Asia Tenggara
Demi Pertumbuhan Ekonomi 8%, RI Butuh Rp13.000 Triliun
3 PKS Sumur Minyak Rakyat Aceh Ditandatangani, BPMA Dorong Lifting
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi, Punya Harta Rp 344,4 Miliar
Prabowo Resmikan MOLINAS Hari Ini, Pemerintah Bangun Ekosistem Motor Listrik dari Industri hingga Baterai
Kementan Gandeng Danantara Bangun Industri Hilir Kelapa, Siapkan Investasi Rp 225 Triliun